Sinyal Sulit di Desa Mondi, Kuliah Daring akibat Karhutla hingga Keseharian Warga Terganggu

Ilustrasi keterbatasan akses internet di Desa Mondi, Kecamatan Sekadau Hulu, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Jaringan seluler yang belum menjangkau seluruh wilayah membuat warga bergantung pada Wi-Fi untuk mengakses informasi dan berkomunikasi.
BERITAINKALBAR.COM, LOKAL –Di Desa Mondi, Kecamatan Sekadau Hulu, Kabupaten Sekadau, terhubung ke internet masih bergantung pada jangkauan Wi-Fi dan pasokan listrik. Jaringan seluler belum menjangkau seluruh wilayah, sementara gangguan Wi-Fi atau pemadaman listrik dapat memutus akses warga terhadap informasi, komunikasi, hingga kegiatan belajar.
Desa seluas sekitar 95,03 kilometer persegi ini berada sekitar 40 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Sekadau dan 12 kilometer dari pusat Kecamatan Sekadau Hulu. Di tengah jarak tersebut, koneksi internet menjadi penghubung penting bagi warga untuk menjangkau berbagai kebutuhan di luar desa.
Desa Mondi dihuni 1.718 penduduk yang tersebar di enam dusun. Namun, akses jaringan seluler belum menjangkau seluruh wilayah desa. Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, jaringan 4G Indosat dari BTS baru dapat diakses di sekitar Dusun Sungai Agung dan Dusun Bandan dengan radius kurang lebih 500 meter. Di wilayah lain, termasuk sekitar kantor desa, sinyal seluler masih sulit diperoleh.
Kondisi itu membuat Wi-Fi menjadi salah satu tumpuan utama warga untuk mendapatkan akses internet. Layanan ini disediakan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dengan biaya Rp3.000 untuk 2 jam, Rp6.000 untuk 10 jam, dan Rp12.000 untuk 24 jam.
Di Desa Mondi, masing-masing dari enam dusun memiliki akses melalui router Wi-Fi, yaitu perangkat yang menyalurkan koneksi internet ke ponsel atau komputer melalui sinyal nirkabel. Namun, jangkauan sinyalnya belum mencakup seluruh wilayah desa.
Akses internet juga sangat bergantung pada pasokan listrik. Ketika layanan Wi-Fi mengalami gangguan atau listrik padam, koneksi internet ikut terputus.
Salah satu warga yang merasakan langsung kondisi tersebut adalah Maria Sopia, warga Dusun Gedet, Desa Mondi. Maria merupakan mahasiswi Universitas Widya Dharma yang kampusnya berada di Kota Pontianak.
Jarak antara kampus dan kampung halamannya membuat akses internet memiliki arti penting. Dari Mondi menuju Pontianak, perjalanan darat berada di kisaran hampir 300 kilometer. Ketika Maria berada di kampung halaman, internet menjadi penghubung antara dirinya dengan kegiatan perkuliahan di Pontianak.
“Menurut saya, internet sangat penting untuk mendukung kegiatan perkuliahan maupun aktivitas sehari-hari. Internet menjadi salah satu sarana utama untuk mengakses informasi, materi perkuliahan, dan berbagai kebutuhan lainnya,” kata Maria saat diwawancara, Rabu (16/09/2026).
Menurut Maria, keterbatasan jaringan sangat memengaruhi kegiatan belajar dan akses informasi. Ketergantungan pada Wi-Fi membuat koneksi dapat terputus sewaktu-waktu ketika jaringan bermasalah atau listrik padam.
“Keterbatasan jaringan sangat memengaruhi aktivitas belajar dan akses informasi. Di Desa Mondi, akses internet hanya mengandalkan jaringan Wi-Fi tanpa didukung jaringan kartu. Ketika terjadi gangguan pada Wi-Fi atau listrik padam, akses internet langsung terputus,” ujarnya.
Persoalan tersebut semakin terasa ketika kabut asap akibat Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mengganggu aktivitas belajar dan perkuliahan harus dilakukan secara daring.
“Keterbatasan internet sangat memengaruhi, khususnya bagi saya sebagai mahasiswa. Kondisi ini menjadi kendala ketika harus mengikuti perkuliahan secara online atau daring, terutama saat terjadi bencana kabut asap. Dalam kondisi seperti itu, kebutuhan terhadap akses internet menjadi semakin penting karena kegiatan perkuliahan harus tetap berjalan meskipun dari jarak jauh,” kata Maria.
Bagi Maria, yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya keberadaan jaringan, tetapi akses internet yang lebih stabil dan merata.
“Harapannya, akses internet di Desa Mondi dapat terus dibenahi. Tidak hanya bergantung pada Wi-Fi, tetapi juga didukung oleh jaringan internet seluler atau jaringan kartu agar akses internet menjadi lebih stabil dan dapat digunakan masyarakat dengan lebih mudah,” ujarnya.
Keterbatasan akses internet juga dirasakan Teguh Ignasius, seorang pemuda Desa Mondi. Baginya, koneksi internet dibutuhkan untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Bagi kami internet penting untuk mendapatkan informasi, berkomunikasi, dan mendukung kegiatan sehari-hari. Tetapi, aksesnya belum bisa digunakan dengan mudah di semua tempat. Kami masih bergantung pada Wi-Fi, sehingga penggunaannya harus menyesuaikan dengan jangkauan sinyal yang tersedia.” kata Teguh saat diwawancara, Selasa (08/10/2026).
Keberadaan akses Wi-Fi di enam dusun belum membuat seluruh warga dapat terhubung dari tempat tinggal masing-masing. Jangkauan sinyal, kondisi jaringan, dan pasokan listrik masih menentukan ketersediaan koneksi.
“Meskipun setiap dusun sudah memiliki akses Wi-Fi, belum seluruh wilayah terjangkau. Kalau berada jauh dari titik Wi-Fi, koneksi sulit didapat. Ketika jaringan mengalami gangguan atau listrik padam, akses internet juga ikut terputus. Kondisi ini membuat kami tidak selalu bisa mendapatkan informasi saat dibutuhkan.” Ujar teguh.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan perangkat dan layanan perlu diikuti dengan jangkauan yang lebih merata serta koneksi yang dapat diandalkan.
“Harapannya, akses internet di Mondi bisa semakin merata dan stabil, termasuk melalui jaringan seluler, supaya warga lebih mudah mencari informasi dan berkomunikasi dari tempat tinggal masing-masing.” Harapnya.




