Guru SD di Bengkayang Belajar Mengubah Lingkungan Sekolah Menjadi Laboratorium STEM Berbasis IoT

Foto bersama Guru SDN 08 Timonong, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. (Dok. Istimewa)
BERITAINKALBAR,COM, BENGKAYANG – Lingkungan sekolah selama ini sering dipandang sekadar sebagai ruang tempat berlangsungnya pembelajaran. Padahal, halaman sekolah, tanah, air, hingga kondisi suhu di sekitar sekolah dapat menjadi sumber belajar yang kaya untuk mengembangkan kemampuan matematika, sains, teknologi, dan kepedulian lingkungan siswa.
Gagasan tersebut menjadi salah satu fokus program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) melalui “Pemberdayaan Guru Sekolah Dasar melalui Pendampingan Pembelajaran STEM-Eco-Mathematics Terintegrasi IoT Berbasis Proyek Lingkungan Sekolah” di SDN 08 Timonong, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Program yang memperoleh pendanaan hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun Anggaran 2026 ini dilaksanakan melalui pendampingan guru pada 13 dan 19 Agustus 2026.
Program tersebut berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga memberikan pengalaman kepada siswa untuk mengamati, mengukur, mengolah data, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan berdasarkan kondisi nyata di lingkungan mereka.
Dari Lingkungan Sekolah Menuju Pembelajaran Matematika
Pada tahap awal, guru mendapatkan penguatan mengenai konsep STEM-Eco-Mathematics, pembelajaran berbasis proyek, serta pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Guru diajak melihat bahwa persoalan sederhana di sekitar sekolah dapat dikembangkan menjadi aktivitas pembelajaran yang mengintegrasikan matematika, sains, teknologi, dan rekayasa.
Melalui workshop, guru bekerja dalam kelompok untuk mengidentifikasi potensi dan persoalan lingkungan sekolah yang dapat dijadikan konteks proyek. Mereka kemudian menyusun tujuan pembelajaran, aktivitas pengamatan dan pengumpulan data, kegiatan matematika, alternatif solusi, hingga rancangan produk yang dapat dihasilkan siswa.
Pendekatan tersebut mengubah cara pandang terhadap pembelajaran matematika. Matematika tidak lagi hanya dipelajari melalui angka, rumus, dan latihan soal, tetapi dapat digunakan untuk memahami fenomena nyata. Siswa, misalnya, dapat mengukur kondisi lingkungan, membandingkan hasil pengamatan, menyajikan data, menemukan pola, dan menggunakan informasi tersebut untuk mendiskusikan solusi terhadap persoalan lingkungan.
Iot Sederhana untuk Membaca Lingkungan
Pendampingan berikutnya memperkenalkan Internet of Things (IoT) sederhana sebagai teknologi pendukung pembelajaran. Guru dikenalkan pada penggunaan sensor dan perangkat digital untuk memperoleh data lingkungan secara langsung.
Dalam implementasinya, dikembangkan tiga konteks pembelajaran. Fase A “Mengenal Suhu” menggunakan sensor suhu, Fase B “Mengenal Tanah Sehat” menggunakan sensor kelembapan tanah, sedangkan Fase C “Mengenal Kualitas Air” menggunakan sensor kualitas air. Perangkat tersebut didukung oleh platform Arduino dan Blynk untuk membantu proses pengukuran dan pemantauan data.
IoT dalam program ini tidak ditempatkan sebagai tujuan pembelajaran teknologi. Guru dan siswa tidak dituntut menjadi programmer atau memahami elektronika secara kompleks. Teknologi digunakan sebagai alat untuk memperoleh data nyata yang kemudian diolah menjadi bahan belajar matematika dan sains.
Dengan pendekatan tersebut, siswa dapat belajar dari pertanyaan sederhana: Seberapa panas lingkungan sekolah? Apakah tanah di kebun sekolah cukup lembap? Bagaimana kondisi air di sekitar sekolah? Dari pertanyaan itu, siswa diarahkan untuk melakukan pengukuran, mencatat data, membandingkan hasil, menyajikan informasi, dan menarik kesimpulan.
Guru Hasilkan Perangkat Pembelajaran
Pendampingan juga diarahkan pada pengembangan perangkat pembelajaran. Guru memperoleh pengalaman menyusun modul ajar, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), aktivitas proyek, media pembelajaran, serta asesmen autentik yang terintegrasi dengan kegiatan lingkungan dan teknologi IoT.
Hasil pendampingan menghasilkan LKPD STEM-Eco-Mathematics terintegrasi IoT serta satu set media pembelajaran berbasis sensor untuk tiga fase pembelajaran. Produk tersebut dirancang agar dapat digunakan kembali dan dikembangkan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah.
Dari 12 guru yang terlibat dalam kegiatan, 10 guru atau 83,3 persen telah mampu merancang dan menerapkan minimal satu modul pembelajaran STEM-Eco-Mathematics berbasis proyek lingkungan sekolah. Capaian tersebut melampaui target program sebesar 80 persen dan menunjukkan adanya peningkatan kapasitas guru dalam merancang pembelajaran yang lebih kontekstual.
Menjadikan Sekolah sebagai Laboratorium Belajar
Lebih jauh, program ini berupaya menempatkan lingkungan sekolah sebagai laboratorium belajar yang hidup. Siswa tidak hanya belajar tentang lingkungan melalui buku teks, tetapi berinteraksi langsung dengan lingkungan, menghasilkan data, dan menggunakan data tersebut untuk memahami konsep yang dipelajari.
Pendekatan ini sekaligus membuka ruang bagi pembelajaran matematika yang lebih bermakna. Ketika siswa menggunakan data suhu, kelembapan tanah, atau kondisi air dalam kegiatan pembelajaran, konsep pengukuran, perbandingan, data, dan representasi matematis menjadi lebih dekat dengan pengalaman mereka.
Bagi guru, pengalaman tersebut menjadi langkah awal untuk mengembangkan pembelajaran yang mengintegrasikan STEM, Eco-Mathematics, proyek lingkungan, dan teknologi digital secara sederhana dan sesuai dengan karakteristik sekolah dasar.
Program ini selanjutnya akan dilanjutkan melalui implementasi pembelajaran di kelas, monitoring dan evaluasi, penyempurnaan perangkat pembelajaran, serta finalisasi modul STEM-Eco-Mathematics terintegrasi IoT. Dengan demikian, inovasi yang dikembangkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi diharapkan berkembang menjadi praktik pembelajaran berkelanjutan yang memanfaatkan lingkungan dan teknologi untuk membangun literasi matematika, sains, teknologi, serta kepedulian lingkungan siswa sekolah dasar. (Totok)








