Beranda » Indeks Berita » Dinkes Kalbar Catat 49.424 Kasus ISPA, Tren Akhir Oktober 2026 Mulai Menurun

Dinkes Kalbar Catat 49.424 Kasus ISPA, Tren Akhir Oktober 2026 Mulai Menurun

Kasus ISPA Kalbar

Ilustrasi data Kasus ISPA Kalbar. (Dok. Beritain Kalbar)

BERITAINKALBAR.COM, PONTIANAK – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat mencatat sebanyak 49.424 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama periode 1 September hingga 30 Oktober 2026. Angka tersebut tercatat di tengah kondisi kabut asap yang sempat menyelimuti sejumlah wilayah Kalbar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski demikian, Dinkes Kalbar menyebut peningkatan kasus secara keseluruhan tidak tergolong signifikan.

Kepala Dinkes Kalbar, Erna Yulianti, mengatakan berdasarkan data Digital Health Information System (DHIS2), perkembangan kasus ISPA mengalami perubahan sepanjang September hingga Oktober.

Pada 1 September hingga 3 Oktober, tren kasus menunjukkan penurunan. Selanjutnya, kasus meningkat pada 4–26 Oktober, sebelum kembali memperlihatkan kecenderungan menurun menjelang akhir bulan.

Baca juga:  Momen Wapres Gibran Buka Festival Cap Go Meh Singkawang 2025

“Kesimpulannya, tidak ada kenaikan signifikan secara keseluruhan kejadian mulai September hingga Oktober 2026,” jelas Erna.

Dari persebaran wilayah, Kota Pontianak menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 10.039 kasus. Disusul Kabupaten Kubu Raya sebanyak 8.233 kasus, Ketapang 6.333 kasus, Mempawah 4.219 kasus, dan Singkawang 3.697 kasus.

Kasus ISPA Kalbar
Data Kasus ISPA Kalbar. (Dinkes Kalbar)

Erna mengingatkan bahwa tingginya angka ISPA di suatu daerah tidak secara otomatis menunjukkan wilayah tersebut menjadi daerah yang paling terdampak kabut asap. Hal itu juga berlaku terhadap tingginya jumlah kasus di Kota Pontianak selama periode Oktober.

Baca juga:  Festival Literasi Inklusif Tanah Kayong Kenalkan Tradisi Syair Gulung kepada Generasi Muda Ketapang

Berdasarkan kelompok usia, masyarakat berusia di atas lima tahun menjadi kelompok dengan jumlah kasus terbanyak. Sementara pasien yang membutuhkan perawatan medis umumnya memiliki penyakit penyerta atau komorbid, termasuk pneumonia.

Dinkes Kalbar turut mencermati hubungan antara kualitas udara dan kejadian ISPA. Hasil pemantauan menunjukkan korelasi positif yang signifikan antara kasus ISPA dan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Pontianak maupun Ketapang selama September–Oktober.

Namun, tingkat korelasinya berbeda. Di Pontianak hubungan tersebut tergolong lemah, sedangkan di Ketapang berada pada tingkat sedang.

Untuk mengantisipasi dampak lanjutan karhutla terhadap kesehatan masyarakat, Dinkes Kalbar tetap menjalankan pemantauan kasus secara harian dan mingguan.

Baca juga:  Bupati Ketapang dan Bupati Sukamara Sepakati Dimulainya Pembangunan Jembatan Jelai Tahun 2025

“Kami juga memantau kunjungan pasien ISPA di fasilitas pelayanan kesehatan dengan membandingkannya terhadap fluktuasi kualitas udara harian,” ujarnya.

Dinkes juga memprioritaskan distribusi masker dan obat-obatan ke wilayah dengan jumlah kasus tertinggi. Selain itu, layanan rujukan diperkuat untuk memastikan pasien ISPA berisiko tinggi dapat segera mendapatkan penanganan di rumah sakit.

Erna menegaskan, perbaikan kualitas udara harus tetap diikuti dengan kewaspadaan. Pemantauan kasus dan kesiapan fasilitas kesehatan tetap menjadi bagian penting dalam upaya melindungi masyarakat dari dampak kesehatan akibat karhutla.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *