Beranda » Indeks Berita » Festival Literasi Inklusif Tanah Kayong Kenalkan Tradisi Syair Gulung kepada Generasi Muda Ketapang

Festival Literasi Inklusif Tanah Kayong Kenalkan Tradisi Syair Gulung kepada Generasi Muda Ketapang

Syair Gulung Ketapang

Penyair Perempuan Eltika Noor peragakan olah vokal saat lokakarya Tradisi Syair Gulung pada Festival Literasi Inklusif Tanah Kayong 2026 beberapa waktu lalu, Rabu (16/9/2026). (Dok. Istimewa)

BERITAINKALBAR.COM, KETAPANG — Tradisi Syair Gulung menjadi salah satu kekayaan budaya Kabupaten Ketapang yang kembali diperkenalkan kepada generasi muda melalui Festival Literasi Inklusif Tanah Kayong 2026 yang digelar Sahabat Cita Khatulistiwa Kabupaten Ketapang pada 16 September 2026.

Kegiatan tersebut diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari komunitas perempuan, pelajar, mahasiswa, pemuda hingga penyandang disabilitas dari Sekolah Luar Biasa (SLB). Keberagaman peserta menjadi salah satu bentuk semangat inklusivitas dalam kegiatan yang memadukan literasi dengan pengenalan budaya lokal.

Dalam rilis yang diterima Beritain Kalbar, Kamis (24/9) Ketua Sahabat Cita Khatulistiwa Kabupaten Ketapang, Neng Marlina Efendi, mengatakan kegiatan tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk mengenal lebih dekat tradisi dan kekayaan literasi budaya yang berkembang di Tanah Kayong.

“Banyak pembelajaran berharga dari sudut pemikiran narasumber salah satunya dari tradisi syair gulung yang belum banyak anak muda mengetahuinya,” ungkap Neng Marlina Efendi.

Karya Peserta Didokumentasikan

Menurut Marlina, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengalaman kepada peserta, tetapi juga menghasilkan karya yang dapat menjadi bagian dari dokumentasi literasi budaya di Kabupaten Ketapang.

“Luaran kegiatan ini menghasilkan jejak tulisan terbaik peserta dari hasil kurasi yang ketat para ahli dan melalui pendokumentasian karya tersebut akan dibaca dan didengar banyak orang dan berdampak pada kualitas literasi budaya di Kabupaten Ketapang“, cetus Marlina.

Baca juga:  Bupati Alex Ingatkan Disiplin Tonase Kendaraan di Jalan Pelang–Kepuluk

Dokumentasi karya peserta diharapkan dapat menjadi jejak literasi sekaligus memperluas pengenalan terhadap tradisi lokal yang selama ini berkembang di tengah masyarakat Ketapang.

Mengenal Sejarah dan Makna Syair Gulung

Maestro Syair Gulung Ketapang, Mahmud Mursalin, menjelaskan bahwa Syair Gulung telah lama dikenal oleh masyarakat Ketapang. Penggunaannya tidak terbatas pada kegiatan adat, tetapi juga hadir dalam berbagai acara resmi pemerintahan maupun kegiatan masyarakat.

“Bagi sebagian masyarakat, ada yang menyebutnya syair gulung, kengkarangan bahkan syair layang. Disebut Kengkarangan karena disusun dengan berbagai cerita yang dikehendaki oleh pengarang atau penyair, kebiasaannya disesuaikan dengan tema acara tertentu”, tambahnya.

Mahmud menjelaskan, istilah Syair Gulung berkaitan dengan bentuk naskahnya. Syair yang telah disusun kemudian disambung dan digulung agar mudah dibawa. Ketika dibacakan dalam sebuah acara, gulungan tersebut dibuka secara perlahan.

Adapun istilah Syair Layang juga memiliki kaitan dengan bentuk gulungan yang memanjang ketika dibuka dan dapat bergerak atau melayang ketika tertiup angin.

Tradisi Syair Gulung disebut sebagai salah satu bentuk kesusastraan Melayu tua yang berkaitan dengan peninggalan Kerajaan Tanjungpura. Hingga kini, tradisi tersebut masih digunakan dalam berbagai kegiatan adat masyarakat Ketapang.

Di antaranya dalam tradisi mererisik, meminang atau perkawinan, mandi tiga malam, belenggang, gunting rambut atau turun lamin, hingga khataman Al-Qur’an.

Baca juga:  Desa Sungai Kinjil Wakili Kalbar di Lomba Kampung KB Nasional 2026

Peserta Belajar Menulis Syair Gulung

Praktik penulisan Syair Gulung juga menjadi bagian dari kegiatan festival. Muhammad Riza, praktisi muda Syair Gulung sekaligus salah satu narasumber, membimbing peserta dalam mengenal teknik penyusunan karya.

Ia mengaku bangga dapat berbagi pengetahuan secara langsung kepada peserta dalam kegiatan literasi tersebut.

Riza juga menjelaskan sejumlah karya Syair Gulung yang memiliki nilai sejarah dan dikenal luas.

Ia pun mengungapkan, Syair Penembahan Al Hajj Muhammad Sabran termasuk syair gulung yang terkenal hingga di simpan di musium Laiden Belanda yang terkenal dengan syair sultan Matan atau Syair Pangeran Syarif yang menceritakan suka duka beliau selama 100 hari di Pontianak membebaskan Pangeran Muhammad Said yang dituduh sebagai pemberontak oleh Belanda, sahutnya

Dalam praktiknya, penulisan Syair Gulung memiliki struktur yang terdiri atas bagian pembuka, pertengahan dan penutup.

Bagian pembuka umumnya berisi salam serta pujian kepada Tuhan, pejabat atau tuan rumah. Bagian pertengahan memuat pesan, petuah, nilai-nilai, adat istiadat serta penjabaran tema yang diangkat. Sementara bagian akhir berisi salam penutup dari penyair.

Belajar Vokal dan Irama Syair Gulung

Selain penulisan, peserta juga diperkenalkan dengan teknik vokal dalam membawakan Syair Gulung.

Eltika Noor, salah satu penyair perempuan yang dikenal dalam pembacaan Syair Gulung pada berbagai acara adat pernikahan, menjelaskan bahwa tradisi tersebut memiliki sejumlah irama atau lagu yang menjadi bagian dari cara penyampaiannya.

Baca juga:  Tiga DOB Resmi Diusulkan: Pemkab Ketapang Audiensi ke Kemendagri dan Komisi II DPR RI

Beberapa di antaranya adalah Elang Mengantuk, Simpang, Lebah Begantong, Seluang Beranyut dan Lembang Melayu.

Eltika mengatakan, membawakan Syair Gulung membutuhkan proses latihan yang panjang. Penyair tidak hanya dituntut memahami naskah, tetapi juga harus mampu menjiwai isi syair ketika menyampaikannya kepada pendengar.

“Selain penjiwaan dalam penyampaian syair gulung, harap diperhatikan juga ketukan atau irama lagu, cengkok atau vokal serta tempo pengucapan yang menentukan cepat atau lambatnya dalam penyebutan kata”, tegasnya.

Ia berharap semakin banyak generasi muda, khususnya perempuan, yang tertarik mempelajari dan melestarikan Syair Gulung sebagai salah satu identitas budaya Kabupaten Ketapang.

Mendorong Regenerasi Budaya Ketapang

Festival Literasi Inklusif Tanah Kayong 2026 menjadi salah satu ruang pertemuan antara literasi, seni, budaya dan keberagaman masyarakat.

Melalui lokakarya Syair Gulung, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai sejarah dan bentuk karya, tetapi juga berkesempatan mempraktikkan proses penulisan hingga teknik pembacaannya.

Eltika menilai kegiatan semacam ini penting untuk memastikan tradisi Syair Gulung tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Lokakarya tradisi syair gulung ini adalah langkah tepat dalam pewarisan budaya agar syair gulung bukan hanya dikenal dalam wilayah Kabupaten Ketapang saja, namun menjadi kebanggaan warisan tak benda di Indonesia, tutup Eltika”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *