Heboh Dugaan Riset Palsu Asal Indonesia di Konferensi Internasional Denmark

Ilustrasi (Dok. Pinterest)
BERITAINKALBAR.COM, INTERNASIONAL — Dugaan adanya penelitian palsu yang dibawakan peserta asal Indonesia dalam konferensi ilmiah International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Kopenhagen, Denmark, mendadak menjadi sorotan publik dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Kasus ini mencuat setelah epidemiolog asal Indonesia, Wa Ode Dwi Diningrat, mengungkap sejumlah kejanggalan saat mengikuti konferensi tersebut sebagai perwakilan dari Oxford University, Inggris, sebagaimana dilansir CNBC Indonesia.
Awalnya, Dwi mengaku diajak rekannya untuk menghadiri sesi presentasi dua peserta asal Indonesia yang menggunakan nama “Dimas” dan “Riana”. Saat itu ia hanya membaca abstrak penelitian secara singkat tanpa menaruh curiga.
Namun setelah kembali menelaah isi penelitian tersebut, Dwi mulai menemukan sejumlah hal yang dianggap tidak masuk akal. Kecurigaan itu semakin kuat setelah ia mendiskusikan grafik serta data penelitian dengan rekan peneliti dan supervisornya.
Salah satu poin yang dianggap janggal adalah klaim pengumpulan data primer di kawasan Pegunungan Andes, Peru, tanpa melibatkan peneliti atau institusi lokal setempat. Dalam praktik riset internasional, kondisi tersebut dinilai hampir mustahil dilakukan.
“Mereka tuh ngumpulin data di Andes. Ngumpulin data dan enggak ada sama sekali kolaborator lokal di negara itu impossible untuk melakukan penelitian kayak gitu di negara orang. Itu salah satu keanehan yang paling menonjol,” ujarnya mengutip Detikcom, Kamis (28/5/2026).
Selain isi penelitian, identitas pemateri juga memunculkan tanda tanya besar. Dalam salah satu sesi, seorang perempuan mempresentasikan penelitian berjudul Urban Heat Islands and Ageing Lung Vulnerability: Mapping Pneumococcal Pneumonia Risk and Climate-Exposed Older Adult Hotspots in LMIC Megacities menggunakan nama “Riana Dwi Kurniawati”.
Tak lama berselang, sekitar 10 menit kemudian, perempuan yang sama kembali tampil di sesi berbeda dengan identitas lain, yakni “Dimas Fajar Prasetyo”. Penampilannya pun disebut berubah setelah mengganti jilbab. Pada sesi kedua tersebut, ia mempresentasikan riset berjudul AI-Fused Satellite Climate, Urban Heat and PCV Uptake to Prioritise Pneumococcal Booster Strategies for Frail Older Adults in LMIC Megacities.
Menurut Dwi, perempuan itu bahkan memperkenalkan dirinya sebagai “Dimas” di hadapan peserta konferensi.
Belakangan diketahui bahwa sosok pemateri tersebut bernama Prihantini. Namun namanya justru tidak tercantum sebagai penulis dalam dua penelitian yang dipresentasikan.
Berdasarkan informasi di laman resmi ISPPD, Prihantini diketahui mengirim empat judul penelitian bersama Rifaldy Fajar dan Rini Winarti. Mereka menggunakan nama institusi AI-Biomedicine Research Group, IMCDS Biomed Research Foundation, Jakarta. Sementara Rini Winarti tercatat menggunakan afiliasi Departemen Biologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa Prihantini, Rifaldy Fajar, Rini Winarti, dan Riana Dwi Kurniawati ternyata berasal dari almamater yang sama, yakni Universitas Negeri Yogyakarta.
Prihantini diketahui merupakan alumni Jurusan Matematika angkatan 2015. Rifaldy berasal dari jurusan yang sama angkatan 2014, sedangkan Rini Winarti merupakan alumni Biologi angkatan 2014 dan Riana berasal dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2015.
Nama Rifaldy dan Rini sebelumnya pernah mencuri perhatian setelah meraih medali emas dalam ajang The Egyptian International Invention and Innovation Exhibition (EGYPTINVENT) 2016 di Kairo, Mesir.
Selain itu, Rifaldy, Prihantini, dan Riana juga pernah tergabung dalam tim Departemen Pengembangan Kreativitas Mahasiswa BEM KM UNY yang sukses meraih medali emas pada ajang The 2nd World Invention and Innovation Forum (WIIF) di Foshan, China, tahun 2017.
Menanggapi polemik tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik UNY Prof Nur Hidayanto menyatakan pihak kampus saat ini masih melakukan penelusuran terkait alumni yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.
Sementara itu, hingga kini belum ada klarifikasi langsung dari pihak-pihak terkait. Sebelumnya, Rifaldy sempat mengunggah pernyataan melalui akun Threads dan Instagram pribadinya bahwa dirinya bersama tim peneliti tengah menyiapkan penjelasan terkait polemik tersebut. Namun unggahan itu kemudian menghilang setelah akun media sosialnya ditutup.
Kasus dugaan riset palsu ini pun memicu perhatian luas publik karena menyangkut kredibilitas penelitian ilmiah Indonesia di forum internasional. Hingga saat ini, polemik tersebut masih menjadi perbincangan di berbagai platform media sosial dan komunitas akademik.




