Plastik yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang: Ketika Mikroplastik Menjadi “Kendaraan” bagi Logam Berat di Sungai Kapuas

Mikroplastik Sungai Kapuas

Dok. Puji Astuti Mahasiswa S2 Kimia, Universitas Tanjungpura Pontianak.

BERITAINKALBAR.COM, PONTIANAK — Sampah plastik yang terlihat mengapung di Sungai Kapuas bukan hanya persoalan kebersihan lingkungan. Di balik serpihan kecil plastik yang terus terbawa arus, terdapat ancaman kimia yang bekerja secara perlahan namun berbahaya. Partikel-partikel plastik berukuran sangat kecil mampu membawa logam berat beracun masuk ke tubuh ikan, lalu berakhir di rantai makanan manusia.

Di tepian Sungai Kapuas, aktivitas nelayan masih berlangsung seperti biasa. Mereka menebar jala dan menggantungkan hidup dari hasil sungai. Namun di balik aliran air yang tampak tenang, proses pencemaran sedang terjadi secara diam-diam. Plastik yang dibuang ke sungai tidak benar-benar hilang. Material tersebut hanya berubah menjadi potongan yang semakin kecil hingga sulit terlihat oleh mata manusia.

Partikel kecil itu dikenal sebagai mikroplastik dan nanoplastik. Dalam beberapa tahun terakhir, keberadaan keduanya menjadi perhatian serius para peneliti lingkungan di berbagai negara. Ancaman utamanya bukan hanya berasal dari plastik itu sendiri, melainkan kemampuannya menyerap dan membawa logam berat berbahaya seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), dan tembaga (Cu) ke dalam ekosistem perairan.

Plastik Tidak Hilang, Hanya Berubah Ukuran

Plastik mengalami proses pemecahan akibat paparan sinar matahari, perubahan suhu, serta hantaman arus air sungai. Sinar ultraviolet (UV) dapat memutus ikatan kimia dalam struktur plastik sehingga material menjadi rapuh dan mudah pecah menjadi bagian-bagian kecil.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Science of the Total Environment tahun 2022 menunjukkan bahwa paparan sinar matahari selama beberapa hari dapat mengubah sifat fisik dan kimia mikroplastik. Perubahan tersebut membuat permukaan plastik lebih mudah menyerap berbagai polutan, termasuk logam berat.

Arus sungai kemudian mempercepat proses penghancuran partikel plastik. Plastik berukuran besar akan terus terpecah hingga menjadi mikroplastik dengan ukuran di bawah 5 milimeter. Ketika ukurannya semakin kecil hingga kurang dari 1 mikrometer, partikel tersebut disebut nanoplastik.

Kondisi alam Kalimantan Barat yang tropis, dengan intensitas matahari tinggi dan suhu air hangat, mempercepat pembentukan mikroplastik dan nanoplastik di perairan Sungai Kapuas.

Kondisi Sungai Kapuas dan Ancaman Pencemaran

Sebagai sungai terpanjang di Indonesia, Sungai Kapuas memiliki peran penting bagi masyarakat Kalimantan Barat. Sungai ini menjadi sumber air, jalur transportasi, hingga sumber pangan bagi warga yang tinggal di sepanjang alirannya.

Namun kualitas air Sungai Kapuas kini menghadapi tekanan pencemaran yang cukup serius. Penelitian dari Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Universitas Tanjungpura tahun 2024 menyebutkan bahwa beberapa parameter kualitas air seperti BOD, COD, dan TSS telah melampaui ambang batas baku mutu air kelas II berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021.

Baca juga:  Penguatan Kolaborasi Dunia Usaha untuk Penanganan Infrastruktur Ruas Jalan Tumbang Titi – Beringin

Pencemaran logam berat di Sungai Kapuas berasal dari berbagai aktivitas manusia. Salah satu sumber utama ialah aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah hulu sungai seperti Kabupaten Sintang dan Melawi. Dalam proses penambangan, merkuri digunakan untuk memisahkan emas dari material lainnya, lalu limbahnya berakhir di aliran sungai.

Selain merkuri, timbal juga dapat berasal dari cat kapal, bahan bakar kapal motor, hingga aktivitas bengkel di kawasan tepian sungai. Sementara tembaga banyak dikaitkan dengan limbah industri dan penggunaan pestisida pertanian.

Kajian menggunakan model WASP yang dilakukan Gus Nengsih dan tim pada 2023 menunjukkan bahwa pencemaran logam berat di kawasan Kapuas Kecil telah dapat dipetakan persebarannya secara ilmiah.

Mikroplastik dan Logam Berat: Kombinasi Berbahaya

Di lingkungan perairan, mikroplastik dan logam berat saling berinteraksi. Permukaan mikroplastik memiliki gugus kimia aktif yang mampu menarik ion logam berat seperti merkuri, timbal, dan tembaga.

Semakin kecil ukuran partikel plastik, semakin besar luas permukaannya. Hal ini membuat mikroplastik sangat efektif menjadi media penempelan logam berat.

Kajian yang diterbitkan dalam Marine Pollution Bulletin tahun 2026 menyebutkan bahwa mikroplastik dapat bertindak sebagai “vektor” atau pembawa logam berat di perairan. Plastik yang telah mengalami pelapukan akibat sinar matahari bahkan memiliki kemampuan adsorpsi yang lebih tinggi dibanding plastik baru.

Penelitian lain dalam Environmental Pollution tahun 2024 menemukan bahwa beberapa jenis polimer seperti polistirena (PS) dan polivinil alkohol (PVA) memiliki kemampuan tinggi menyerap logam berat, terutama timbal.

Fakta ini menunjukkan bahwa semakin lama sampah plastik berada di sungai, semakin besar pula potensi bahayanya sebagai pembawa zat beracun.

Nanoplastik dan Ancaman dalam Rantai Makanan

Nanoplastik memiliki ukuran yang sangat kecil hingga mampu menembus jaringan biologis organisme air. Partikel ini dapat masuk ke tubuh plankton, ikan kecil, hingga ikan predator yang lebih besar.

Tinjauan ilmiah yang dipublikasikan pada 2025 menyebutkan bahwa nanoplastik berpotensi mengalami bioakumulasi dalam tubuh organisme air dan berpindah melalui rantai makanan.

Penelitian lain dari Frontiers in Toxicology tahun 2026 menunjukkan bahwa fitoplankton sebagai dasar rantai makanan perairan memiliki tingkat serapan mikroplastik dan nanoplastik yang tinggi. Dari organisme kecil tersebut, partikel kemudian berpindah ke hewan air lainnya hingga akhirnya berpotensi dikonsumsi manusia.

Ilustrasi perpindahan mikroplastik dan logam berat dalam rantai makanan perairan dari plankton hingga manusia

Bioakumulasi dan Biomagnifikasi

Bioakumulasi adalah proses penumpukan zat berbahaya di dalam tubuh makhluk hidup karena tubuh tidak mampu mengeluarkannya secara cepat. Ketika ikan mengonsumsi organisme yang telah tercemar, logam berat akan tersimpan di jaringan tubuh seperti hati dan lemak.

Baca juga:  Desa Sungai Kinjil Wakili Kalbar di Lomba Kampung KB Nasional 2026

Sementara biomagnifikasi terjadi ketika zat beracun tersebut terus meningkat konsentrasinya di sepanjang rantai makanan. Ikan predator yang memakan banyak ikan kecil dapat memiliki kandungan logam berat jauh lebih tinggi dibandingkan air tempat hidupnya.

Fenomena serupa pernah terjadi dalam tragedi Minamata di Jepang pada 1956 akibat pencemaran merkuri di perairan.

Di Sungai Kapuas, kondisi ini menjadi perhatian serius karena masyarakat masih banyak mengonsumsi ikan sungai sebagai sumber protein utama.

Risiko bagi Kesehatan Manusia

Merkuri dalam bentuk metilmerkuri dikenal sebagai racun saraf yang berbahaya. Paparan dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan sistem saraf, gangguan penglihatan, hingga kerusakan perkembangan janin.

Timbal juga sangat berbahaya, terutama bagi anak-anak. Paparan timbal dapat menurunkan kemampuan kognitif, mengganggu perkembangan otak, dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan lainnya.

Sementara tembaga dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan gangguan hati dan ginjal.

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa kombinasi antara mikroplastik dan logam berat dapat menghasilkan efek toksik yang lebih besar dibandingkan jika keduanya berdiri sendiri.

Temuan penelitian di Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah, memperlihatkan bahwa lebih dari separuh sampel ikan yang diteliti telah mengandung mikroplastik di saluran pencernaannya. Kondisi lingkungan yang serupa membuat Sungai Kapuas juga memiliki potensi menghadapi ancaman yang sama.

Langkah yang Dapat Dilakukan

Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi pencemaran mikroplastik. Pengelolaan sampah yang lebih baik juga diperlukan agar limbah plastik tidak masuk ke sungai.

Selain itu, pengawasan terhadap aktivitas industri dan PETI perlu diperkuat untuk menekan pencemaran logam berat di perairan.

Penelitian dan pemantauan kualitas air secara rutin juga sangat penting guna mengetahui tingkat pencemaran yang terjadi di Sungai Kapuas.

Edukasi kepada masyarakat mengenai dampak mikroplastik terhadap lingkungan dan kesehatan perlu terus ditingkatkan melalui sekolah, komunitas, maupun media massa.

Kapuas dan Masa Depan Lingkungan Kalimantan Barat

Sungai Kapuas bukan hanya aliran air, melainkan bagian penting dari kehidupan masyarakat Kalimantan Barat. Jutaan warga bergantung pada sungai ini untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk sumber pangan dan mata pencaharian.

Ancaman mikroplastik dan logam berat bukan lagi sekadar isu lingkungan biasa. Persoalan ini menyangkut kesehatan manusia dan masa depan ekosistem sungai.

Baca juga:  Founder Youth Aktual, Dedi Firmansyah Soroti Akses Pendanaan Transisi Hijau di SEA Youth Summit 2026

Ilmu pengetahuan telah menunjukkan berbagai risiko yang dapat terjadi apabila pencemaran terus dibiarkan. Karena itu, diperlukan kesadaran bersama dari masyarakat, pemerintah, peneliti, dan seluruh pihak untuk menjaga Sungai Kapuas tetap lestari bagi generasi mendatang.

Sains hanyalah cermin. Apa yang kita lakukan dengan bayangan yang ditampilkannya — itu urusan kita bersama.

 

Oleh: Puji Astuti | Mahasiswa S2 Kimia, Universitas Tanjungpura | Penerima Beasiswa LPDP
Pontianak, 2026

Artikel ini ditulis sebagai bagian dari upaya diseminasi ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas.

Referensi Ilmiah
1. Al Harraq, A., Brahana, P.J., Arcemont, O., Zhang, D., Valsaraj, K.T., & Bharti, B. (2022). Effects of weathering on microplastic dispersibility and pollutant uptake capacity. ACS Environmental Au, 2(6), 549–555.
2. Arifin, Hutabarat, C., & Elizabeth, M. (2024). Analisis Kualitas Air Baku pada Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kapur Tirta Raya 20 liter/detik Kabupaten Kubu Raya. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah, 12(2).
3. Gus Nengsih, K., Purnaini, R., & Saziati, O. (2023). Pendekatan Model WASP (Water Quality Analysis Simulation Program) pada Pencemaran Logam Berat Cd di Sungai Kapuas Kecil. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah, 11(1), 084.
4. Li, Z., Chen, L., Gao, W., Li, Y., Li, K., Liu, Y., & Gao, Y. (2026). Adsorption of heavy metals by microplastics in aquatic environments: mechanism, multi-factor regulation and ecological risks. Marine Pollution Bulletin, artikel daring (April 2026).
5. Bi, S., Liu, S., Liu, E., Xiong, J., Xu, Y., Wu, R., Liu, X., & Xu, J. (2024). Adsorption behavior and mechanism of heavy metals onto microplastics: a meta-analysis assisted by machine learning. Environmental Pollution, 360, 124634.
6. Thakur, R., Joshi, V., Sahoo, G.C., Jindal, N., & Tiwari, R.R. (2025). Review of mechanisms and impacts of nanoplastic toxicity in aquatic organisms and potential impacts on human health. Toxicology Reports, 14, 102013.
7. Kundu, S., Kumar, N., Kumar, P., Basavaraj, P.S., Singh, A.K., Godse, D., & Reddy, K.S. (2026). Micro/nanoplastics pollution: emerging challenges for aquatic animals and food crops. Frontiers in Toxicology, artikel daring (diterima 13 Februari 2026).
8. Zakiah, Riani, E., Taryono, & Cordova, M.R. (2024). Microplastic contamination in water, sediment, and fish from the Kahayan River, Indonesia. Chemistry and Ecology, 40(6), 697–720.
9. World Health Organization. (2021). Methylmercury: Human Health Aspects (Concise International Chemical Assessment Document No. 61). WHO Press, Geneva.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *