Beranda » Indeks Berita » Napas Di Tengah Asap
Kabut Asap

Dok. Nur Ridha An Nisa, Mahasiswa S2 Kimia Universitas Tanjungpura

BERITAINKALBAR.COM, PONTIANAK — Musim kemarau 2026 kembali menyelimuti Pontianak dengan kabut pekat. Di balik asap yang akrab itu, para ilmuwan menemukan koktail racun yang jauh lebih serius dari yang kita bayangkan.

Setiap musim kemarau, Pontianak kembali menghilang di balik tirai asap cokelat keabu-abuan. Bagi jutaan warganya, ini pemandangan yang terlalu akrab. Namun para ilmuwan kini memastikan: yang melayang di udara adalah racun yang diam-diam menggerogoti kesehatan dari dalam.

Data KLHK per 9 Mei 2026 mencatat karhutla Kalbar telah membakar lebih dari 180.000 hektar — melampaui periode sama tahun 2024. BMKG memperingatkan puncak kemarau Juli–September 2026 diperkirakan 15% lebih kering. ISPU Pontianak sudah menyentuh 134 (Tidak Sehat), tiga minggu lebih awal dari tahun lalu.

Baca juga:  Rute Pawai 1 Muharram 1447 H di Singkawang

“Gambut yang terbakar melepaskan deposit kimia purba berusia ribuan tahun — dengan senyawa karsinogenik 8 kali lebih pekat dari kota normal.”

6 Racun dalam Setiap Napas

Siapa Paling Terancam?

5 Langkah Lindungi Diri & Keluarga

  • Gunakan masker N95, bukan masker bedah. N95 menyaring 95% PM2.5. Wajib untuk anak & ibu hamil.
  • Tutup ventilasi rumah dan jendela serta gunakan air purifier HEPA jika tersedia.
  • Pantau ISPU setiap hari. Cek AQMS KLHK tiap pagi, jika ISPU >100, hindari aktivitas luar ruang.
  • Perbanyak minum air dan konsumsi vitamin C. Hidrasi bantu eliminasi toksikan, sedangkan vitamin C meredam inflamasi akibat ozon.
  • Kenali tanda darurat seperti nyeri dada, sesak berat, dan bibir membiru. Segera ke IGD.
Baca juga:  Dokter Residen Asal Pontianak Pelaku Pemerkosaan di RSHS Diduga Alami Kelainan Seksual

Kabut asap bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman kesehatan masyarakat yang dapat berdampak lintas generasi. Pengendalian kebakaran lahan gambut menjadi langkah penting untuk mencegah terulangnya bencana asap yang terus menghantui Kalimantan Barat setiap musim kemarau.

“Solusi jangka panjang hanya satu: hentikan pembakaran gambut. Selama gambut Kalimantan terus dibuka, asap ini akan kembali setiap tahun — menggerogoti kesehatan generasi kita.”

Oleh: Nur Ridha An Nisa | Mahasiswa S2 Kimia, Universitas Tanjungpura |
Pontianak, 30 Mei 2026 |Edisi Lingkungan.

Baca juga:  Tiga DOB di Ketapang Disetujui DPRD Kalbar, Alexander Wilyo Siap Kawal ke Pusat

Sumber: KLHK, BMKG, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, RSUD dr. Soedarso, dan Universitas Tanjungpura. Data per 10 Mei 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *