Delta Kapuas Project Perkuat Satgas Perhutanan Sosial melalui Pelatihan Dalkarhutla

Peserta Pelatihan Dalkarhutla Fire Crew 1 yang diselenggarakan Delta Kapuas Project mengikuti praktik lapangan untuk meningkatkan kapasitas pencegahan dan penanganan awal kebakaran hutan dan lahan di kawasan Perhutanan Sosial Kalimantan Barat.

Peserta Pelatihan Dalkarhutla Fire Crew 1 yang diselenggarakan Delta Kapuas Project mengikuti praktik lapangan untuk meningkatkan kapasitas pencegahan dan penanganan awal kebakaran hutan dan lahan di kawasan Perhutanan Sosial Kalimantan Barat.

BERITAINKALBAR.COM, KUBU RAYA – Delta Kapuas Project menyelenggarakan Pelatihan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Fire Crew 1 bagi Satgas Dalkarhutla Kelompok Perhutanan Sosial sebagai upaya memperkuat pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Perhutanan Sosial Kalimantan Barat.

Kegiatan yang bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pencegahan, mitigasi, dan penanganan awal Karhutla ini diawali dengan Apel Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan di halaman Kantor Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Senin (29/6/2026), sebelum dilanjutkan dengan pelatihan pada 29 Juni–5 Juli 2026 di Padang Tikar II, Kabupaten Kubu Raya.

Peserta pelatihan ini merupakan perwakilan dari 25 desa wilayah program Delta Kapuas Project di Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Kayong Utara, yang berasal dari Satgas Dalkarhutla Kelompok Perhutanan Sosial, Masyarakat Peduli Api (MPA), tim patroli, serta unsur masyarakat yang berperan dalam pengelolaan dan perlindungan kawasan hutan.

Program ini memadukan pembelajaran di kelas dan praktik lapangan dengan menghadirkan narasumber dari Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Wilayah III Kementerian Kehutanan, Manggala Agni, serta praktisi di bidang pengendalian Karhutla.

Baca juga:  Regulasi Baru Permenhut 6/2026, Perkuat Perhutanan Sosial dalam Perdagangan Karbon

Berbeda dengan penanganan saat api sudah membesar, pelatihan ini justru menempatkan pencegahan dan mitigasi sebagai garis pertahanan pertama. Peserta dibekali kemampuan melakukan deteksi dini, patroli kawasan, pemeliharaan sekat bakar dan tabat, penggunaan peralatan pemadaman, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), pertolongan pertama, hingga simulasi penanganan kebakaran sebagai respons awal sebelum api meluas.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kubu Raya, Arianto, mengapresiasi inisiatif Delta Kapuas Project yang melibatkan masyarakat sebagai ujung tombak pengendalian Karhutla.

“Kami sangat mengapresiasi pelaksanaan Apel Siaga Pengendalian Karhutla di Kecamatan Batu Ampar yang dirangkaikan dengan pelatihan dan diinisiasi oleh rekan-rekan dari Delta Kapuas Project. Kegiatan seperti ini sangat baik karena mampu memperkuat kesiapsiagaan masyarakat sekaligus meningkatkan kapasitas para pihak dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.

Menurut Arianto, keberhasilan pengendalian Karhutla tidak hanya bergantung pada kemampuan memadamkan api, tetapi juga pada kesiapan masyarakat dalam melakukan langkah-langkah pencegahan sejak dini.

Selama ini BPBD Kabupaten Kubu Raya terus melakukan sosialisasi, pendampingan kepada masyarakat, serta menyalurkan bantuan peralatan kepada Masyarakat Peduli Api (MPA) di sekitar kawasan Perhutanan Sosial. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat mampu melakukan pencegahan sekaligus penanganan awal ketika muncul titik api.

Meski demikian, Arianto mengakui upaya pengendalian Karhutla masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, peralatan, hingga sulitnya akses menuju lokasi kebakaran dan minimnya ketersediaan sumber air.

“Apabila akses menuju lokasi sulit dijangkau atau sumber air tidak tersedia, maka meskipun kita memiliki personel yang terlatih dan peralatan yang memadai, proses pemadaman tetap akan mengalami kendala,” katanya.

Karena itu, berbagai langkah mitigasi terus diperkuat melalui pembangunan, pemeliharaan, dan pemantauan sekat kanal di kawasan rawan Karhutla, pemantauan tinggi muka air, patroli rutin, hingga sinergi dengan pemerintah provinsi untuk dukungan operasi udara apabila kebakaran tidak dapat dijangkau melalui jalur darat.

Bagi masyarakat, pelatihan ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi bekal melindungi ruang hidup mereka.

Baca juga:  Perhutanan Sosial Solusi Cegah Karhutla, Ditjen PS Soroti Peran Kolaborasi SAMPAN Kalimantan

Salah seorang peserta, Sintawati, anggota Tim Patroli Tanjung Harapan, mengaku terdorong mengikuti pelatihan agar memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mencegah dan menangani kebakaran hutan dan lahan.

“Saya ingin memperoleh keterampilan baru, terutama materi yang disampaikan selama pelatihan, serta mendapatkan pengalaman yang belum pernah saya miliki sebelumnya agar bisa diterapkan saat bertugas di lapangan,” katanya.

Ia memahami besarnya dampak Karhutla terhadap kehidupan masyarakat desa. Menurutnya, kebakaran tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menghilangkan sumber penghidupan warga.

“Misalnya, ada masyarakat yang baru membuka lahan untuk ditanami sawit, kemudian terjadi kebakaran. Lahan yang baru mereka bangun bisa habis terbakar, sehingga usaha dan biaya yang telah dikeluarkan menjadi sia-sia,” ujarnya.

Pelatihan ini juga menunjukkan bahwa upaya menjaga hutan merupakan tanggung jawab bersama tanpa memandang gender. Keterlibatan perempuan menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi ancaman Karhutla.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *