Delta Kapuas Project Perkuat Konservasi Bruguiera hainesii, Jenis Mangrove Langka di Dunia

LPHD Tanjung Harapan bersama SAMPAN Kalimantan dan PT BSM melalui Delta Kapuas Project menyelamatkan Bruguiera hainesii, mangrove paling langka di dunia, di Hutan Desa Kubu Raya.
BERITAINKALBAR.COM, KUBU RAYA – Upaya penyelamatan salah satu spesies mangrove paling langka di dunia terus dilakukan. Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Tanjung Harapan yang didampingi SAMPAN Kalimantan dengan dukungan PT Belantara Sejahtera Mandiri melalui Delta Kapuas Project mendukung aksi konservasi dan penyelamatan Bruguiera hainesii di Hutan Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, bertepatan dengan peringatan Hari Mangrove Sedunia.
Aksi konservasi dan penyelamatan tersebut menjadi langkah nyata dalam melindungi Bruguiera hainesii, spesies mangrove yang berstatus Critically Endangered (Kritis) berdasarkan Daftar Merah IUCN. Secara global, populasi pohon dewasa spesies ini diperkirakan tersisa sekitar 200 individu di habitat alaminya, sehingga temuan beberapa individu di Hutan Desa Tanjung Harapan menjadi kabar penting bagi dunia konservasi.
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (29/7/2026) itu diikuti pemerintah, akademisi, pegiat lingkungan, jurnalis serta berbagai pemangku kepentingan yang menempuh perjalanan sekitar tiga jam melalui Sungai Kapuas hingga kawasan pesisir Desa Tanjung Harapan.
Setibanya di lokasi, rombongan menyaksikan secara langsung pohon induk Bruguiera hainesii yang berdiri di garis depan pesisir, menghadapi ancaman abrasi laut yang terus mengikis habitatnya. Pohon tersebut menjadi simbol penting perjuangan menjaga keberlangsungan salah satu spesies mangrove paling langka di dunia.
Sebagai bentuk perlindungan awal, LPHD Tanjung Harapan bersama SAMPAN Kalimantan, pemerintah daerah, dan PT Bios memasang penanda serta pelindung di sekitar pohon induk untuk mengurangi dampak abrasi dan menjaga keberlangsungan spesies tersebut.
Aksi konservasi dan penyelamatan ini merupakan bagian dari strategi konservasi in-situ, yaitu melindungi spesies di habitat alaminya. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menjaga proses ekologis, mempertahankan keragaman genetik, sekaligus mendukung regenerasi alami Bruguiera hainesii yang kini menghadapi ancaman serius akibat rusaknya ekosistem mangrove.
Selain menetapkan kawasan konservasi, para pihak juga mengembangkan pembibitan sebagai upaya penyelamatan jangka panjang. Dari pengumpulan propagul yang dilakukan di lapangan, berhasil diproduksi lebih dari 1.000 bibit Bruguiera hainesii yang siap ditanam kembali di habitat aslinya.
Bibit Mangrove Langka Berhasil Dikembangkan
Kepala Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove (BPEGM) Wilayah Kalimantan, Sudaryanti , mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam menyelamatkan spesies langka tersebut.
“Dengan ditemukannya mangrove jenis Bruguiera hainesii yang statusnya langka, maka sangat diperlukan upaya konservasi. Keberadaannya sangat penting sebagai penyeimbang ekosistem, penahan abrasi, sekaligus tempat pemijahan biota laut seperti kepiting dan udang yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Sudaryanti menjelaskan tingkat keberhasilan hidup bibit yang dikembangkan mencapai lebih dari 70 persen. Menurutnya, kawasan konservasi di Tanjung Harapan berpotensi menjadi sumber benih atau kantong asal-usul Bruguiera hainesii untuk mendukung rehabilitasi mangrove di berbagai daerah di Kalimantan bahkan Indonesia.
Hutan Desa Jadi Benteng Konservasi
Kepala Desa Tanjung Harapan, Syahron, mengatakan Hutan Desa Tanjung Harapan memiliki luas sekitar 17.445 hektare yang mencakup ekosistem mangrove, gambut, dan lahan mineral.
Menurutnya, masyarakat telah lama berkomitmen menjaga kawasan mangrove karena menjadi benteng alami desa dari abrasi sekaligus habitat berbagai satwa liar seperti bekantan, monyet ekor panjang, burung, serta tempat berkembang biaknya udang dan kepiting.
Ia menegaskan masyarakat hanya memanfaatkan kayu mangrove yang telah mati untuk kebutuhan mendesak dan kini semakin aktif mengembangkan pembibitan Bruguiera hainesii agar dapat dilestarikan sekaligus diperbanyak ke wilayah lain.
Sementara itu, Plt Kabid Rehabilitasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Joni, menyebut sekitar 80 persen dari total sekitar 170 ribu hektare mangrove di Kalimantan Barat berada di Kabupaten Kubu Raya. Potensi tersebut, menurutnya, harus dijaga melalui kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan lembaga pendamping.
“Harapannya tanaman yang tadinya hampir punah ini bisa kembali menjadi potensi kebanggaan Kalimantan Barat dan Indonesia,” katanya.
Delta Kapuas Project Dorong Konservasi Berbasis Masyarakat
Perwakilan SAMPAN Kalimantan sekaligus Asisten Biodiversity, Yoga, menjelaskan pendampingan di Desa Tanjung Harapan telah dilakukan sejak 2009 melalui Delta Kapuas Project. Program tersebut tidak hanya berfokus pada rehabilitasi hutan dan perlindungan keanekaragaman hayati, tetapi juga memperkuat kapasitas LPHD dalam mengelola Hutan Desa secara berkelanjutan.




