SMAN 1 Sambas Soroti Kondisi Psikis Siswa, Desak Penyelenggara LCC 4 Pilar Pulihkan Nama Baik Sekolah

Pernyataan Sikap SMAN 1 SAMBAS (Dok. Instagram/@smansa_sambas)
BERITAINKALBAR.COM, SAMBAS – Di tengah polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI 2026 tingkat Kalimantan Barat yang masih menjadi perhatian publik, SMAN 1 Sambas akhirnya mengeluarkan pernyataan sikap resmi pada Jumat (15/5/2026).
Namun, dari delapan poin yang disampaikan pihak sekolah, sorotan publik justru tertuju pada poin ketujuh. Dalam poin tersebut, SMAN 1 Sambas mendesak penyelenggara untuk memulihkan nama baik sekolah sekaligus memberikan jaminan keamanan terhadap kondisi psikis siswa sebelum mewakili Kalimantan Barat di tingkat nasional.
Pernyataan itu berbunyi:
“Kami mendesak pihak penyelenggara untuk memulihkan kembali nama baik SMAN 1 Sambas dan memberikan jaminan keamanan terkait kondisi psikis murid SEBELUM kami mewakili KALBAR pada kegiatan LCC 4 Pilar MPR RI 2026 di tingkat Nasional.”
Poin tersebut dinilai menjadi penegasan bahwa pihak sekolah merasa para siswa mengalami tekanan mental akibat polemik yang terus berkembang di media sosial pasca final LCC 4 Pilar tingkat provinsi.
Alih-alih memilih diam dan fokus mempersiapkan diri menghadapi tingkat nasional, SMAN 1 Sambas justru mengeluarkan pernyataan yang dianggap cukup keras dan berbeda arah dibanding ekspektasi sebagian publik. Terlebih, dalam pernyataan itu sekolah juga menyinggung adanya serangan opini, tuduhan, hingga tekanan psikologis yang disebut berdampak kepada murid, guru, bahkan alumni.
Sebelumnya, polemik LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar menjadi viral setelah muncul kritik terhadap jalannya final lomba, termasuk dugaan ketidaksiapan teknis, kontroversi penilaian, hingga performa dewan juri dan pembawa acara yang ramai dibahas warganet. Situasi tersebut kemudian memicu perdebatan luas di media sosial.
Dalam pernyataan resminya, SMAN 1 Sambas juga menolak tuduhan kecurangan, penyuapan, nepotisme, maupun dugaan setting kemenangan yang diarahkan kepada sekolah mereka. Selain itu, sekolah menyatakan menolak pertandingan final ulang tingkat Provinsi Kalimantan Barat.
Meski demikian, pihak sekolah tetap mengajak semua pihak untuk menahan diri, menghormati proses yang berlangsung, serta mengedepankan penyelesaian yang objektif dan berkeadilan.
Polemik ini sendiri masih menjadi perhatian publik Kalimantan Barat, terutama karena tim pemenang nantinya akan menjadi wakil provinsi pada ajang nasional LCC 4 Pilar MPR RI 2026.




