Peluang Hujan Meningkat, Pemprov Kalbar Terus Pantau Cuaca dan Perkuat Penanganan Karhutla di Lapangan

Hujan Kalbar

Prediksi BMKG Kalbar, potensi hujan akan meningkat pada periode tanggal 21-24 September 2026. (Ilustrasi: Dok. Beritain Kalbar/Canva)

BERITAINKALBAR.COM, PONTIANAK – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terus memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kondisi cuaca yang mulai menunjukkan peluang peningkatan hujan di sejumlah wilayah. Selain mengerahkan personel melalui satuan tugas di lapangan, Pemprov Kalbar melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar juga memantau perkembangan cuaca dan potensi hujan sebagai bagian dari strategi penanganan karhutla.

Plt Kepala BPBD Kalbar, Ridwan, mengatakan berdasarkan pemantauan, peluang hujan mulai meningkat pada periode 19 hingga 24 September 2026.

Ia menyebut peluang hujan pada 18 September masih relatif kecil. Namun, kondisi tersebut diperkirakan mengalami perubahan setelah memasuki 20 September.

“Dari tanggal 21-24 terlihat jelas ini, kemungkinan terjadinya hujan sangat besar,” kata Ridwan, Jumat (18/9).

Peluang Hujan Meningkat pada 21-24 September

Perkembangan cuaca menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam penanganan karhutla di Kalimantan Barat. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpotensi membantu membasahi wilayah yang sebelumnya mengalami kondisi kering.

Informasi tersebut sejalan dengan prakiraan BMKG periode 18-24 September 2026 yang menyebut Kalimantan Barat termasuk wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan hujan. BMKG Kalbar juga mencatat kondisi atmosfer yang masih dipengaruhi El Niño sangat kuat sehingga kondisi kering tetap perlu diwaspadai.

Prediksi BMKG Kalbar

Untuk periode 21-24 September, BMKG memperkirakan peningkatan hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di Kalimantan Barat. Pada saat yang sama, BMKG juga memasukkan Kalbar dalam wilayah yang perlu mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat pada periode 19-21 September.

Baca juga:  AIESEC in Untan Bangun Sinergi dan Kolaborasi melalui Alignment Space Meeting Program iGV 2026
Kepala BPBD Kalbar
Plt Kepala BPBD Kalbar, Ridwan saat sampaikan keterangan. (Dok. Istimewa)

Ridwan mengatakan peluang hujan tersebut dapat menjadi faktor pendukung dalam upaya penanganan kebakaran yang masih berlangsung.

“Mulai 19-24 kita lihat, kita mempunyai kemungkinan prediksi untuk terjadinya hujan, dari tingkat hujan ringan sampai sedang akan terjadi terutama di atas tanggal 20,” jelasnya.

Satgas Darat dan Udara Tetap Bergerak

Meskipun peluang hujan meningkat, penanganan karhutla tidak serta-merta dihentikan. Pemerintah tetap menjalankan operasi melalui satgas darat dan satgas udara.

Tim darat diarahkan untuk melakukan pemantauan dan penanganan langsung terhadap lokasi yang membutuhkan intervensi. Sementara itu, satgas udara digunakan untuk memperluas jangkauan pemantauan dari udara sekaligus mendukung upaya pemadaman.

Satgas udara menjalankan patroli udara dan water bombing berdasarkan informasi serta data yang diperoleh dari tim di lapangan.

Pola tersebut memungkinkan informasi mengenai lokasi kebakaran dari tim darat menjadi bahan bagi tim udara untuk menentukan wilayah yang perlu dipantau maupun ditindaklanjuti.

Cuaca Jadi Bagian Penting Penanganan Karhutla

Pemantauan cuaca menjadi penting karena kondisi atmosfer berpengaruh terhadap perkembangan kebakaran dan penyebaran asap.

BMKG dalam analisis terbarunya menyebut kondisi kering akibat musim kemarau dan El Niño sangat kuat masih meningkatkan risiko karhutla. Dalam pemantauan 7-16 September 2026, BMKG mencatat 1.088 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Barat.

Baca juga:  Memilukan, 7 Pekerja PETI Tewas Tertimbun Longsor di Kapuas Hulu, 4 Korban Perempuan

Namun, kondisi atmosfer tidak sepenuhnya kering. BMKG juga mencatat adanya potensi hujan di Kalimantan Barat pada periode 18-24 September. Aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial yang diprediksi aktif di sekitar Kalimantan Barat menjadi salah satu faktor yang mendukung pembentukan awan hujan.

Dengan kondisi tersebut, perkembangan cuaca akan terus menjadi bagian dari pemantauan pemerintah dalam menentukan langkah penanganan karhutla.

Hujan Diharapkan Membantu Redakan Karhutla

Hujan yang turun di wilayah terdampak berpotensi membantu meningkatkan kelembapan lahan dan mengurangi kondisi kering yang mendukung penyebaran api.

Sebelumnya, BMKG juga telah mendukung penanganan karhutla di Kalimantan Barat melalui analisis cuaca dan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). BMKG menyebut operasi tersebut dilakukan untuk membantu membasahi lahan gambut dan mengurangi titik api di sejumlah kawasan rawan.

Meski demikian, peluang hujan tidak berarti seluruh wilayah Kalimantan Barat otomatis terbebas dari ancaman karhutla. Hujan dapat terjadi secara lokal dengan intensitas dan durasi yang berbeda-beda.

Karena itu, pemerintah daerah tetap mempertahankan kesiapsiagaan personel di lapangan sembari mengikuti perkembangan cuaca terbaru.

Baca juga:  Kaya akan Keberagaman, Ini Daftar Suku di Kalbar dan Data Jumlah Etnisnya!

Pemantauan Karhutla Tetap Dilakukan

BPBD Kalbar juga terus memantau perkembangan kondisi karhutla melalui laporan dari lapangan dan informasi terkait kondisi cuaca.

Laman resmi BPBD Kalbar pada 17 September 2026 masih memuat pembaruan perkembangan karhutla serta laporan penanganan di sejumlah wilayah.

Pemantauan tersebut menjadi bagian dari koordinasi antara unsur pemerintah, satgas darat, satgas udara dan masyarakat yang berada di wilayah rawan kebakaran.

Dengan adanya potensi hujan dalam beberapa hari ke depan, pemerintah berharap kondisi tersebut dapat membantu proses penanganan karhutla. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena kondisi kering dan ancaman kebakaran masih dapat terjadi di sejumlah wilayah.

Masyarakat Diminta Tetap Waspada

Di tengah perubahan kondisi cuaca, masyarakat tetap diminta berhati-hati terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan, terutama di wilayah yang masih mengalami kondisi kering. Pencegahan menjadi bagian penting karena satu titik api dapat berkembang dan menghasilkan asap yang berdampak lebih luas.

Pemprov Kalbar bersama unsur penanganan karhutla akan terus mengikuti perkembangan cuaca dan kondisi lapangan untuk menentukan langkah berikutnya.

Dengan demikian, meningkatnya peluang hujan pada 19-24 September bukan menjadi alasan untuk mengurangi kesiapsiagaan, tetapi menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung penanganan karhutla di Kalimantan Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *