Jajanan Manis dan Berwarna Cerah Jadi Sorotan, Risiko Obesitas Anak Kian Mengkhawatirkan

Ilustrasi Dampak Obesitas Terhadap Anak (Dok. Beritain Kalbar)
BERITAINKALBAR.COM, LIFESTYLE – Persoalan obesitas pada anak kini menjadi perhatian serius dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui United Nations Children’s Fund (UNICEF) mencatat bahwa pada tahun 2025 terdapat sekitar 188 juta anak usia 5 hingga 19 tahun di dunia yang mengalami obesitas. Kondisi ini dinilai berbahaya karena dapat memicu berbagai komplikasi kesehatan sejak usia dini.
Salah satu faktor yang turut berperan dalam meningkatnya angka obesitas anak adalah pola konsumsi jajanan. Saat ini, berbagai makanan ringan dengan rasa manis, warna cerah, dan tampilan menarik semakin mudah ditemukan, terutama jajanan yang viral di media sosial. Daya tarik visual yang kuat, ditambah cita rasa manis, membuat produk-produk tersebut cepat digemari anak-anak dan laris di pasaran.
Namun di balik popularitasnya, muncul kekhawatiran terkait tingginya kandungan gula serta penggunaan pewarnadan perisa buatan. Jika dikonsumsi secara terus-menerus, jajanan semacam ini berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan anak.
Dokter dan pakar gizi dari IPB University, dr. Yusuf, mengingatkan bahwa konsumsi gula berlebih tidak bisa dianggap sepele.
“Jika dikonsumsi terus-menerus, dampaknya cukup serius. Asupan gula berlebih terbukti meningkatkan risiko obesitas, gigi berlubang, gangguan metabolik, dan pada sebagian anak bisa memicu gangguan perilaku serta konsentrasi,” ujar dr. Yusuf, dikutip dari laman resmi IPB, Kamis (29/1/2026).
Ia menjelaskan, meskipun pewarna dan perisa buatan yang digunakan pada jajanan anak umumnya telah berstatus food grade dan diizinkan secara regulasi, risiko tetap muncul jika konsumsinya berlebihan atau berlangsung dalam jangka panjang. Anak-anak dinilai lebih rentan karena sistem tubuh dan proses tumbuh kembang mereka belum sepenuhnya optimal.
Selain itu, tren jajanan viral berwarna mencolok juga dinilai berkontribusi pada masalah gizi anak. Makanan jenis ini umumnya mengandung gula, lemak, dan kalori tinggi, tetapi minim serat serta zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh.
“Jika kebiasaan ini terbentuk sejak dini, risiko obesitas anak meningkat dan dapat berlanjut menjadi penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2, hipertensi, hingga penyakit jantung di usia yang lebih muda,” jelasnya.
Dampaknya tidak hanya berhenti pada kesehatan fisik. Konsumsi makanan manis sejak usia dini juga dapat membentuk pola makan jangka panjang yang kurang sehat. Anak berisiko mengalami ketergantungan terhadap rasa manis dan cenderung menolak makanan bergizi di kemudian hari.
“Preferensi rasa terbentuk sejak kecil. Anak yang terbiasa dengan rasa manis dan tampilan mencolok akan kesulitan membiasakan diri dengan makanan sehat yang secara visual maupun rasa kalah menarik,” tambah dr. Yusuf.
Dari sisi pengawasan, ia menilai regulasi sebenarnya sudah tersedia. Namun, pelaksanaannya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan, terutama pada jajanan rumahan, jajanan viral musiman, serta penjualan daring yang kerap luput dari pengawasan rutin.
“Pengawasan terhadap takaran gula, jenis pewarna, dan bahan tambahan pada produk-produk tersebut masih menjadi celah,” katanya.
Ia pun menekankan perlunya langkah konkret dari pemerintah, mulai dari penguatan pengawasan jajanan anak, kejelasan informasi label kandungan gula dan bahan tambahan, hingga edukasi yang lebih masif kepada orang tua dan sekolah.
Ia juga menilai kebijakan publik perlu diarahkan untuk membangun lingkungan pangan yang lebih sehat, dengan memastikan anak-anak memiliki pilihan makanan bergizi yang aman, mudah dijangkau, dan sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang mereka.




