Berbahaya! BPOM Sebut 8 Obat yang Kerap Dipalsukan di Pasaran

Ilustrasi Obat Palsu yang Beredar di Pasaran (Dok. Beritain Kalbar)

BERITAINKALBAR.COM, LIFESTYLE –Masyarakat diminta semakin waspada saat membeli obat di pasaran. Pasalnya, praktik pemalsuan masih marak terjadi dan menyasar sejumlah produk dengan permintaan tinggi. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) pun membeberkan daftar obat yang paling sering dipalsukan berdasarkan hasil pengawasan dan penyidikan hingga awal 2026.

Mengutip Beautynesia, obat-obatan yang banyak dipalsukan umumnya merupakan produk yang laris dibeli masyarakat, salah satunya Ponstan yang kerap digunakan untuk meredakan sakit gigi. Selain itu, ada pula obat untuk kondisi kesehatan tertentu hingga obat yang berpotensi menyebabkan ketergantungan.

Baca juga:  Taiwan Tarik Indomie Soto Banjar, BPOM RI Dalami Dugaan Cemaran Pestisida

Peredaran obat palsu tentu bukan perkara sepele. Produk semacam ini dapat membawa risiko besar bagi keselamatan pengguna karena kandungannya tidak dapat dipastikan.

Berikut delapan obat yang paling sering ditemukan versi BPOM:

  1. Viagra

  2. Cialis

  3. Ventolin inhaler

  4. Dermovate krim

  5. Dermovate salep

  6. Ponstan

  7. Tramadol hydrochloride

  8. Hexymer / Trihexyphenidyl hydrochloride

Dampak negatif obat palsu

BPOM menjelaskan, obat palsu bisa saja memiliki komposisi yang keliru, baik terlalu banyak, terlalu sedikit, bahkan tidak mengandung zat aktif sama sekali. Dalam sejumlah kasus, obat palsu justru mengandung zat lain yang berbahaya bagi tubuh.

Baca juga:  Update Keracunan MBG di Marau Ketapang: 370 Korban Siswa-Guru, Masih Dirawat

Beberapa dampak yang dapat muncul akibat penggunaan obat palsu antara lain:

  • Keracunan

  • Kegagalan pengobatan

  • Resistensi obat

  • Ketergantungan obat

  • Kematian

Mengutip detikhealth, Trihexyphenidyl yang biasa digunakan untuk mengatasi gangguan gerak seperti Parkinson maupun efek samping obat psikiatri termasuk yang sering disalahgunakan. Efek tertentu yang ditimbulkan membuat obat ini kerap menjadi sasaran pemalsuan sekaligus penyalahgunaan.

Masalahnya tidak berhenti pada risiko kesehatan. Peredaran obat palsu juga bisa membuat biaya pengobatan membengkak karena pasien tidak kunjung sembuh, bahkan kondisinya dapat semakin memburuk. Dampak lanjutan lainnya adalah munculnya persoalan sosial dan ekonomi hingga turunnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan.

Baca juga:  Kenapa Pontianak Dijuluki Kota Seribu Warung Kopi?

(pdp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *