Founder Youth Aktual, Dedi Firmansyah Soroti Pentingnya Akses Pendanaan bagi Transisi Hijau Komunitas ASEAN

Founder Youth Aktual, Dedi Firmansyah, saat menjadi narasumber pada SEA Youth Summit 2026 di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, Minggu (9/2/2026), (Dok. Istimewa)

BERITAINKALBAR.COM, INTERNASIONAL – Upaya mewujudkan perubahan menuju ekonomi hijau di Asia Tenggara dinilai tidak akan berjalan adil tanpa dukungan pembiayaan yang dapat dijangkau oleh masyarakat di tingkat akar rumput. Hal ini disampaikan oleh Founder Youth Aktual, Dedi Firmansyah, ketika menjadi speaker dalam SEA Youth Summit 2026 yang berlangsung di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, pada (9/2/2026).

Pertemuan regional tersebut mempertemukan pemuda dari sejumlah negara seperti Laos, Malaysia, Filipina, hingga Singapura. Agenda ini terselenggara dengan dukungan ASEAN Youth Forum, Envolve, Penabulu, serta Uni Eropa, dan menjadi ruang bertukar gagasan mengenai masa depan pembangunan berkelanjutan di kawasan.

Baca juga:  Miris! Dokter PPDS Anestesi Pemerkosa Pendamping Pasien Usai Dibius di Bandung Berasal dari Pontianak

Dalam diskusi bertema Grand ASEAN Youth Townhall: Trends, Challenges, and Opportunities in ASEAN for a Just and Inclusive Green Transition, Dedi menjadi pembicara pada panel yang membahas kendala pembiayaan bagi inisiatif hijau masyarakat lokal. Ia memaparkan bahwa banyak komunitas adat maupun kelompok lokal masih kesulitan memperoleh dukungan dana secara langsung.

“Pendanaan inklusif adalah kunci agar transisi hijau tidak meninggalkan masyarakat adat dan komunitas lokal. Tanpa akses yang adil, mereka justru bisa makin tertinggal,” ujar Dedi Firmansyah dalam pemaparannya.

Baca juga:  Drama “Genie, Make a Wish” Resmi Rilis 3 Oktober 2025

Ia menilai hambatan bukan hanya soal ketersediaan anggaran, tetapi juga menyangkut kesiapan lembaga komunitas serta model pendanaan iklim yang kerap belum menyentuh kebutuhan nyata di lapangan.

“Kita membutuhkan skema yang lebih adaptif, kolaboratif, dan benar-benar berbasis pada kebutuhan warga. Pemuda juga harus dilibatkan sejak tahap perencanaan sampai pelaksanaan,” tambahnya.

Selain isu pembiayaan, forum ini juga menyoroti dimensi lain dari transisi hijau, seperti pentingnya perlindungan sosial, kesetaraan gender, dan dukungan bagi kelompok rentan. Berbagai pembicara menekankan bahwa perubahan menuju ekonomi rendah karbon harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga keadilan sosial.

Baca juga:  10 Rekomendasi Destinasi Wisata Alam Kalbar yang Memukau dan Eksotis

Pada sesi pleno penutup, para delegasi pemuda membahas strategi menghadapi krisis iklim melalui praktik hidup rendah karbon, penerapan ekonomi sirkular, serta penguatan kerja sama lintas sektor di wilayah ASEAN.

Rangkaian kegiatan SEA Youth Summit 2026 pun berakhir dengan komitmen bersama untuk memperluas kolaborasi regional. Kehadiran Dedi sebagai pembicara diharapkan dapat mendorong lahirnya model pembiayaan hijau yang semakin terbuka dan benar-benar berpihak kepada masyarakat lokal.

(pdp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *