Pemuda Katolik Ketapang Harap Film “Pesta Babi” Tingkatkan Kepedulian Generasi Muda terhadap Lingkungan dan Budaya

Pesta Babi

Dok. Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

BERITAINKALBAR.COM, KETAPANG — Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Ketapang berharap film dokumenter “Pesta Babi” mampu meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap isu lingkungan hidup, budaya lokal, dan keberlangsungan masyarakat adat. Harapan tersebut disampaikan dalam kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film yang digelar pada Minggu, (17/05/ 2026) di Gedung Jerun Stoop, CP Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 18.00 WIB hingga 21.33 WIB itu dihadiri sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari kaum muda, orang dewasa, hingga anak-anak. Selain menjadi ruang menonton bersama, kegiatan tersebut juga menjadi forum refleksi dan dialog mengenai isu lingkungan hidup, masyarakat adat, konflik agraria, hingga tanggung jawab moral umat beragama dalam menjaga bumi sebagai rumah bersama. Panitia juga menyiapkan snack dan minuman bagi seluruh peserta yang hadir.

Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh refleksi. Pembawa acara atau Master of Ceremony (MC), Saudara Dedy Candra, memandu seluruh rangkaian kegiatan mulai dari pembukaan, doa bersama, sambutan, pemutaran film, sesi diskusi, hingga penutupan dan foto bersama.

Film dokumenter “Pesta Babi” merupakan karya investigatif jurnalis Dandhy Laksono bersama antropolog Cypri Dale yang diproduksi Watchdoc Documentary bersama sejumlah organisasi masyarakat sipil. Film berdurasi sekitar satu setengah jam tersebut mengangkat persoalan konflik agraria, deforestasi, proyek strategis nasional (PSN), hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat adat di Papua Selatan.

Baca juga:  Tinjau Progres Jalan Pelang–Kepuluk, Akses Ditargetkan Segera Fungsional

Ketua Pemuda Katolik Komcab Ketapang periode 2025–2028, Erasmus Canaga Antutn, S.Sos, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa kegiatan nobar bukan agenda politik praktis, melainkan ruang edukasi dan refleksi bersama.

“Kami bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas terselenggaranya kegiatan ini. Pemuda Katolik tidak berafiliasi dengan organisasi mana pun. Ini adalah wadah kita untuk bersilaturahmi. Melalui film ini kita belajar melihat budaya, lingkungan, dan pentingnya menjaga hutan sebagai refleksi bagi kehidupan kita ke depan,” ujarnya.

Menurut Erasmus, film Pesta Babi memberikan kesan mendalam karena tidak hanya menghadirkan cerita tentang budaya masyarakat Papua, tetapi juga mengandung pesan kemanusiaan dan refleksi ekologis yang kuat.

“Film Pesta Babi memberikan kesan yang sangat mendalam bagi kami. Film ini bukan hanya menghadirkan cerita tentang tradisi dan budaya masyarakat Papua khususnya dalam menjaga alam, tetapi juga mengajak kita melihat nilai kebersamaan, penghormatan terhadap alam, persaudaraan, dan perjuangan hidup masyarakat adat,” katanya kepada Beritain Kalbar, Senin (18/5/2026) pagi WIB.

Baca juga:  Alexander Wilyo Perintahkan Investigasi Kontraktor yang Belum Dibayar Pemerintahan Sebelumnya

Ia menilai banyak pesan penting yang dapat dipetik, terutama tentang menjaga lingkungan, budaya, dan hutan sebagai warisan bagi generasi mendatang.

“Melalui film ini kita belajar melihat Budaya, Lingkungan dan pentingnya menjaga hutan sebagai refleksi bagi kehidupan ke depan untuk generasi berikutnya,” lanjutnya.

Sebagai Ketua Pemuda Katolik Komcab Ketapang, Erasmus berharap kegiatan serupa dapat membuka kesadaran generasi muda terhadap isu lingkungan dan budaya lokal.

“Saya berharap melalui film ini generasi muda semakin terbuka untuk belajar dan peduli terhadap isu lingkungan dan mampu menjadi generasi yang menjaga keseimbangan Antara pembangunan dan kelestarian alam serta pentingnya menjaga budaya lokal,” ujarnya.

Ia juga berharap kegiatan nobar dan diskusi seperti ini menjadi ruang edukasi yang membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga lingkungan dan merawat persaudaraan.

“Semoga kegiatan nobar dan diskusi seperti ini menjadi ruang edukasi yang membangun kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan dan merawat persaudaraan adalah tanggung jawab kita semua,” tambahnya.

Baca juga:  Bupati Ketapang Harap TPAKD Jadi Motor Inklusi Keuangan di Kalbar

Selain itu, Erasmus berharap semakin banyak karya film lokal Indonesia yang mengangkat kisah masyarakat adat dan daerah sebagai inspirasi bagi generasi muda.

“Kami juga berharap semakin banyak karya film lokal Indonesia yang mampu mengangkat kisah-kisah daerah dan suara masyarakat adat, sehingga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya serta mencintai Indonesia dalam keberagamannya,” tutupnya.

Dalam sesi diskusi, pegiat lingkungan Wendi Tamariska menekankan pentingnya manusia hidup berdampingan dengan alam serta menghormati tanah adat sebagai warisan Tuhan. Ia menilai pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan fungsi hutan dan budaya lokal.

Sementara itu, Pastor Kepala ex officio Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, RP. Vitalis Nggeal, CP, mengaitkan isi film dengan semangat ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus tentang perlindungan lingkungan dan pembelaan terhadap masyarakat rentan.

Ia menegaskan bahwa Gereja Katolik menolak kekerasan dan mengajak umat untuk menjadi pribadi yang kritis dan peduli terhadap persoalan sosial serta lingkungan hidup.

Kegiatan nobar dan diskusi film “Pesta Babi” ini menjadi salah satu upaya Pemuda Katolik Komcab Ketapang dalam menghadirkan ruang edukasi publik yang reflektif, kritis, dan membangun kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *