
Klenteng Kwan Tie Bio (Dok. Prokopim Pemkot Pontianak)
BERITAINKALBAR.COM, PONTIANAK – Perayaan Cap Go Meh di Kota Pontianak tidak hanya dikenal melalui gemerlap Parade Naga Bersinar yang memukau ribuan pasang mata, tetapi juga melalui rangkaian ritual sakral yang menyertainya. Salah satu prosesi terpenting sebelum naga-naga tersebut tampil di malam puncak adalah ritual buka mata naga, sebuah tradisi yang sarat makna spiritual dan nilai budaya.
Ritual ini biasanya digelar di Klenteng Kwang Tie Bio, salah satu klenteng tertua dan paling bersejarah di Pontianak. Klenteng ini menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Tionghoa sekaligus titik awal dimulainya rangkaian perayaan Cap Go Meh setiap tahunnya.
Prosesi Sakral Sebelum Parade
Sebelum naga diarak menyusuri jalanan kota, masing-masing replika naga terlebih dahulu menjalani prosesi penyucian dan pemberkatan. Dalam ritual buka mata naga, bagian mata yang sebelumnya ditutup kain merah akan dibuka atau diberi titik menggunakan tinta khusus oleh suhu (pemuka agama) atau tatung.
Tindakan simbolis ini diyakini sebagai proses “menghidupkan” naga secara spiritual. Dalam kepercayaan Tionghoa, naga bukan sekadar properti pertunjukan, melainkan lambang kekuatan, kebijaksanaan, dan pembawa keberuntungan. Dengan dibukanya mata naga, diyakini energi positif mulai mengalir dan siap menyertai jalannya perayaan.
Simbol Keberkahan dan Penolak Bala
Makna ritual ini lebih dalam dari sekadar seremoni. Naga yang telah “dibangunkan” dipercaya membawa keberkahan, keselamatan, serta menolak bala bagi wilayah yang dilewati. Oleh sebab itu, masyarakat memandang prosesi ini sebagai doa bersama untuk kesejahteraan kota dan seluruh warganya.
Setiap detail dalam ritual, mulai dari doa, dupa, hingga warna merah yang mendominasi, mengandung filosofi tentang harapan akan tahun yang lebih baik, penuh rezeki, kesehatan, dan kedamaian. Tradisi ini juga menjadi bentuk pelestarian warisan leluhur yang terus dijaga lintas generasi.
Wujud Toleransi dalam Perayaan
Keunikan Cap Go Meh di Pontianak juga terlihat dari penjadwalan parade naga yang dimulai sekitar pukul 21.00 WIB. Waktu tersebut dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada umat Muslim yang melaksanakan salat tarawih, terutama ketika perayaan berdekatan dengan bulan Ramadan.
Langkah ini mencerminkan nilai toleransi dan harmoni yang telah lama tumbuh di Pontianak. Perayaan budaya berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap keyakinan lain, menciptakan suasana damai dan saling menghargai.
Simbol Harmoni Kota Khatulistiwa
Lebih dari sekadar agenda tahunan, Cap Go Meh di Pontianak menjadi simbol kebersamaan masyarakat multietnis. Ritual buka mata naga menjadi pembuka perjalanan parade sekaligus pengingat bahwa di balik gemerlap cahaya dan kemeriahan, terdapat doa, harapan, dan nilai spiritual yang mendalam.
Tradisi ini menegaskan bahwa Cap Go Meh bukan hanya peristiwa budaya, tetapi juga cerminan harmoni antarumat beragama yang terus dijaga di Kota Khatulistiwa.




