Apa Itu Program Gentengisasi? Ini Kelebihan dan Kekurangan Atap Genteng

Ilustrasi Atap Genteng (Dok. Beritain Kalbar)
BERITAINKALBAR.COM, LIFESTYLE – Upaya penataan kawasan permukiman kini menjadi salah satu perhatian pemerintah, termasuk dari sisi tampilan atap bangunan. Lewat program yang dikenal sebagai “gentengisasi”, penggunaan genteng tanah liat kembali didorong agar selaras dengan pengembangan pariwisata serta estetika tata kota.
Belakangan ini, pemakaian genteng memang semakin tersisih oleh material yang dianggap lebih modern. Rumah dan bangunan baru banyak beralih ke atap metal, seng, maupun rangka baja ringan karena dinilai lebih praktis, pemasangannya cepat, bobotnya ringan, dan biaya total konstruksinya cenderung lebih hemat.
Perubahan selera arsitektur ikut memengaruhi. Desain hunian minimalis dan kontemporer dinilai lebih pas dipadukan dengan atap non-genteng. Akibatnya, penggunaan genteng tradisional kini lebih sering ditemui di wilayah tertentu atau pada bangunan yang mempertahankan nuansa klasik.
Perbandingan atap genteng dan atap logam
Mengutip Construction and Civil Engineering Magazine, berikut sejumlah kelebihan serta kekurangan genteng tanah liat dibandingkan atap berbahan logam seperti seng atau baja.
Atap Genteng
Genteng dibuat dari tanah liat yang dibentuk lalu dibakar. Umumnya dipakai pada rumah tradisional, hunian klasik, pondok, atau bangunan yang ingin mempertahankan kesan lawas.
Plus:
-
Umur pakai panjang, bisa mencapai 50–100 tahun atau lebih bila kualitas dan perawatannya baik.
-
Pilihan estetika beragam, mulai dari warna, glasir, hingga bentuk yang dapat mengikuti gaya arsitektur.
-
Tahan api serta relatif kebal terhadap serangga dan pembusukan.
Minus:
-
Bobotnya berat sehingga membutuhkan struktur penyangga kuat.
-
Harga material dan ongkos pemasangan biasanya lebih mahal dibanding alternatif modern.
-
Glasir dapat memudar, sementara lumut atau ganggang mudah muncul di iklim lembap.
Atap Logam (baja, aluminium, seng, tembaga, dan lain-lain)
Jenis ini banyak digunakan pada bangunan modern maupun komersial.
Plus:
-
Umur pakai cukup lama, banyak sistem mampu bertahan 40–70 tahun tergantung jenis logam dan pelapisnya.
-
Lebih ringan sehingga beban struktur bangunan menjadi lebih kecil.
-
Tangguh menghadapi cuaca ekstrem dan memiliki ketahanan angin yang baik.
-
Dapat didaur ulang, sehingga dinilai memiliki potensi dampak lingkungan lebih rendah.
Minus:
-
Biaya awal relatif tinggi, terutama bila memakai logam premium.
-
Bisa menimbulkan suara berisik saat hujan deras atau hujan es jika tanpa peredam memadai.
-
Berisiko korosi ketika lapisan pelindung rusak atau berada di kawasan pesisir.
-
Pemuaian dan penyusutan akibat suhu dapat memicu masalah kebocoran bila desain sambungan kurang tepat.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, pilihan material atap akhirnya kembali pada kebutuhan, kekuatan struktur, serta konsep desain bangunan. Namun lewat program gentengisasi, pemerintah berharap penggunaan genteng tanah liat tetap memiliki tempat sekaligus mampu memperkuat karakter visual lingkungan.
(pdp)




