7 Fakta Menarik Cap Go Meh di Singkawang yang Jarang Diketahui

Puncak perayaan Cap Go Meh Singkawang 2024. (X @SannDyakala666)
BERITAINKALBAR.COM, SINGKAWANG – Perayaan Cap Go Meh di Singkawang selalu menjadi perhatian masyarakat setiap tahunnya. Tidak hanya dikenal karena kemeriahan pawai dan atraksi Tatung, Cap Go Meh Singkawang juga menyimpan sejumlah fakta menarik yang belum tentu diketahui banyak orang. Tradisi ini bukan sekadar perayaan penutup Imlek, melainkan bagian dari identitas budaya Kalimantan Barat.
Fakta Unik Cap Go Meh Singkawang
Berikut tujuh fakta menarik Cap Go Meh Singkawang yang patut diketahui.
1. Berarti “Malam ke-15” dalam Dialek Hokkien
Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien yang berarti “malam ke-15”. Perayaan ini jatuh tepat pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek dan menjadi puncak sekaligus penutup rangkaian perayaan tersebut dalam tradisi Tionghoa.
2. Singkawang Dijuluki Kota Seribu Kelenteng
Singkawang dikenal luas sebagai Kota Seribu Kelenteng karena banyaknya rumah ibadah Tionghoa yang tersebar di berbagai sudut kota. Keberadaan kelenteng ini menjadi pusat kegiatan spiritual saat Cap Go Meh berlangsung, mulai dari doa bersama hingga ritual adat.
3. Tradisi Tatung Jadi Daya Tarik Utama
Salah satu ciri khas Cap Go Meh Singkawang adalah atraksi Tatung. Tatung dipercaya sebagai medium spiritual yang dirasuki roh leluhur atau dewa. Dalam prosesi ritual, para Tatung melakukan atraksi yang tampak ekstrem sebagai simbol penolak bala dan pembersihan energi negatif.
Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi pembeda Cap Go Meh Singkawang dengan daerah lain di Indonesia.
4. Tidak Hanya Dirayakan Komunitas Tionghoa
Meski berasal dari tradisi Tionghoa, perayaan Cap Go Meh di Singkawang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Warga dari beragam latar belakang suku dan agama turut berpartisipasi dalam menjaga keamanan dan kelancaran acara. Hal ini menjadikan Cap Go Meh sebagai simbol toleransi dan kebersamaan di Kalimantan Barat.
5. Menjadi Magnet Wisata Tahunan
Setiap perayaan Cap Go Meh, Singkawang dipadati pengunjung dari berbagai daerah. Hotel, tempat makan, dan pelaku usaha kecil merasakan peningkatan aktivitas ekonomi. Momentum ini turut mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kalbar.
6. Lampion dan Pawai Budaya Memeriahkan Kota
Selain ritual spiritual, Cap Go Meh juga dimeriahkan dengan pawai budaya, barongsai, naga, serta hiasan lampion yang menghiasi jalanan kota. Suasana ini menciptakan daya tarik visual yang kuat dan menjadi momen yang dinanti masyarakat.
7. Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi
Di tengah perkembangan zaman, Cap Go Meh Singkawang tetap bertahan sebagai tradisi yang dijaga lintas generasi. Generasi muda dilibatkan dalam berbagai kegiatan budaya agar nilai-nilai tradisi tidak hilang.
Pelestarian inilah yang membuat Cap Go Meh tidak sekadar menjadi tontonan tahunan, tetapi juga warisan budaya yang terus hidup.
Cap Go Meh di Singkawang bukan hanya perayaan meriah, melainkan cerminan sejarah, budaya, dan harmoni masyarakat Kalimantan Barat. Fakta-fakta menarik tersebut menunjukkan bahwa tradisi ini memiliki makna lebih dalam dari sekadar festival tahunan.
Sebagai media lokal yang berkomitmen menyajikan informasi akurat dan terpercaya, Beritain Kalbar akan terus menghadirkan liputan budaya dan peristiwa penting di Kalimantan Barat. (at)




