Dampak AI Meluas, Mahasiswa Mulai Cari Jurusan yang Lebih Aman

(Dok. Ilustrasi: Beritain Kalbar)
BERITAIANKALBAR.COM, LIFESTYLE – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini mulai berdampak pada keputusan akademik mahasiswa, khususnya dalam menentukan jurusan kuliah. Ketidakpastian terhadap masa depan pekerjaan membuat banyak mahasiswa mempertimbangkan ulang pilihan studi mereka.
Melansir dari Gallup dan Lumina Foundation dalam laporan 2026 State of Higher Education Study, fenomena ini terlihat dari meningkatnya jumlah mahasiswa yang mengubah jurusan akibat kekhawatiran terhadap AI. Survei tersebut dilakukan secara daring pada Oktober 2025 dengan melibatkan 3.801 mahasiswa di Amerika Serikat berusia 18 hingga 59 tahun, baik dari program sarjana maupun associate degree.
Hasil survei menunjukkan bahwa 13% mahasiswa sarjana telah mengganti jurusan mereka karena pengaruh AI, sementara pada mahasiswa associate degree angkanya mencapai 19%. Secara keseluruhan, sekitar satu dari enam mahasiswa diketahui telah melakukan perubahan tersebut. Bahkan, sekitar 47% mahasiswa mengaku setidaknya sudah “cukup serius” mempertimbangkan untuk mengganti jurusan mereka.
Temuan ini mengindikasikan adanya perubahan cara pandang mahasiswa terhadap masa depan karier mereka. Courtney Brown, Ph.D., Wakil Presiden Lumina Foundation, menyebut bahwa kekhawatiran ini banyak dipengaruhi oleh informasi yang beredar luas di media. Ia mengatakan, “Mereka banyak mendengar di media tentang bagaimana AI akan mengambil alih berbagai pekerjaan.”
Kondisi tersebut membuat mahasiswa mulai mempertanyakan nilai dari pendidikan yang mereka jalani. Tidak sedikit yang ragu apakah usaha yang mereka keluarkan selama kuliah akan memberikan hasil yang sepadan. “Waktu dan biaya yang mereka investasikan untuk meraih gelar tersebut benar-benar akan memberikan hasil yang sepadan,” menjadi pertimbangan penting bagi mereka.
Menurut Brown, kegelisahan ini mendorong mahasiswa untuk memikirkan ulang pilihan jurusan mereka secara lebih serius. “Jurusan apa yang perlu saya ambil agar saya mendapat pekerjaan setelah lulus?” menjadi pertanyaan yang kini semakin sering muncul.
Mahasiswa associate degree tercatat lebih banyak melakukan perubahan jurusan dibandingkan mahasiswa sarjana. Hal ini diduga karena keterkaitan pendidikan mereka yang lebih langsung dengan kebutuhan pasar kerja saat ini. Brown menjelaskan, “kualifikasi mereka lebih erat kaitannya dengan kebutuhan tenaga kerja saat ini.”
Di sisi lain, ketidakpastian juga terlihat jelas pada mahasiswa di bidang teknologi dan vokasi. Sebanyak 27% mahasiswa teknologi dan 17% mahasiswa vokasi mengaku sangat mempertimbangkan untuk mengganti jurusan. Namun menariknya, kelompok ini juga termasuk yang paling banyak berpindah ke bidang tersebut.
Fenomena ini mencerminkan kebingungan yang dialami mahasiswa dalam menentukan arah masa depan. Mereka dihadapkan pada pilihan sulit antara mengikuti perkembangan teknologi atau justru menghindarinya. Brown mengungkapkan, “Mereka tidak yakin harus mengambil langkah apa. Haruskah masuk ke bidang teknologi? Atau justru menjauhinya?”
Ketidakpastian ini tidak hanya dirasakan mahasiswa, tetapi juga masyarakat luas dalam menghadapi perkembangan teknologi yang begitu cepat. Seperti yang disampaikan Brown, “Tidak ada dari kita yang benar-benar tahu bagaimana AI akan berkembang.”
Dengan adanya temuan ini, para pemangku kepentingan di bidang pendidikan diharapkan dapat lebih responsif dalam menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan teknologi yang terus berubah. Mahasiswa juga diimbau untuk lebih adaptif dan kritis dalam menentukan pilihan studi agar tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja ke depan.
Perkembangan kecerdasan buatan memang tidak dapat dihindari, namun dengan kesiapan dan strategi yang tepat, generasi muda diharapkan mampu menjadikannya sebagai peluang, bukan ancaman.
(pdp)




