China dan Korea Utara Bersatu, Sinyal Dunia Menuju Konflik Baru?

Pemimpin China dan Korut/ AI

(Dok. Ilustrasi: Beritain Kalbar/ AI)

BERITAINKALBAR.COM, INTERNASIONAL – Hubungan bilateral antara Korea Utara dan China kembali menunjukkan penguatan setelah berlangsungnya pertemuan tingkat tinggi di Pyongyang. Di tengah situasi global yang semakin dinamis, kedua negara sepakat untuk memperdalam kerja sama strategis lintas sektor.

Melansir dari CNBC Indonesia, Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un menerima kunjungan Menteri Luar Negeri China Wang Yi pada Jumat (10/4). Dalam pertemuan tersebut, Kim menyampaikan dukungannya terhadap upaya China dalam membangun tatanan dunia “multipolar”.

Dukungan itu juga mencakup komitmen Korea Utara terhadap prinsip “satu China”, yang menegaskan bahwa Taiwan merupakan bagian dari wilayah China. Sikap ini sekaligus memperkuat posisi diplomatik kedua negara sebagai mitra strategis di kawasan.

Baca juga:  Profil Alexander Wilyo: Bupati Ketapang 2025-2030, Karier Birokrat Pernah Jabat Sekda

Kim menilai berbagai isu global saat ini sebagai bagian dari “kepentingan bersama” yang perlu disikapi melalui kerja sama yang lebih erat. Ia juga menegaskan pentingnya menjaga hubungan bilateral di tengah perubahan geopolitik dunia.

Sementara itu, Wang Yi menyebut hubungan China dan Korea Utara kini memasuki tahap baru setelah pertemuan antara Kim dan Presiden China Xi Jinping sebelumnya. Ia menekankan perlunya koordinasi yang lebih intens dalam menghadapi tantangan global.

Ia mengatakan, “Dalam menghadapi situasi internasional yang bergejolak dan kompleks, China dan Korea Utara harus lebih memperkuat komunikasi dan koordinasi dalam urusan internasional dan regional utama.”

China juga menyatakan kesiapan untuk meningkatkan pertukaran strategis dan memperluas kerja sama praktis dengan Korea Utara dalam berbagai bidang.

Baca juga:  Prabowo Jalan-Jalan Lagi ke Luar Negeri, Besok Temui Putin

Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi Korea Utara untuk memperluas pengaruhnya di tengah tekanan internasional, sekaligus mendorong terbentuknya tatanan dunia yang tidak didominasi satu kekuatan.

Meski Rusia menjadi salah satu mitra utama dalam beberapa tahun terakhir, hubungan dengan China tetap memiliki peran penting, terutama dalam aspek ekonomi dan konektivitas. Kedua negara bahkan telah kembali membuka layanan transportasi yang sempat terhenti sejak pandemi COVID-19.

Kunjungan Wang Yi ke Pyongyang ini juga menjadi yang pertama dalam tujuh tahun terakhir. Dalam agenda tersebut, ia turut bertemu Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Sun Hui untuk membahas penguatan kerja sama dan berbagai isu internasional.

Baca juga:  Anggota DPRD Kalbar 2024-2029 dari Dapil 3 Kalbar Bengkayang dan Singkawang

Pertemuan ini berlangsung menjelang rencana pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Xi Jinping yang dijadwalkan pada Mei mendatang. Sejumlah pihak menilai momentum tersebut berpotensi membuka peluang diplomasi baru dengan Korea Utara.

Sejak kegagalan perundingan pada 2019, Korea Utara diketahui menghentikan dialog dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan, serta mengambil sikap yang lebih tegas dalam kebijakan luar negerinya.

(pdp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *