Jelang Ramadan, Kue Takjil Tradisional Kembali Diburu

Ilustrasi Makanan Manis Untuk Berbuka Puasa (Dok. Beritain Kalbar)
BERITAINKALBAR.COM, LIFESTYLE – Menjelang bulan suci Ramadan, aneka kue dan minuman takjil tradisional mulai kembali menghiasi pasar dan lapak musiman. Takjil menjadi bagian penting dalam tradisi berbuka puasa karena rasanya yang manis, teksturnya ringan, serta mudah dicerna setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Kue tradisional juga memiliki nilai budaya yang kuat. Banyak di antaranya hanya mudah ditemui saat Ramadan, sehingga selalu dirindukan setiap tahun. Berikut daftar kue dan takjil tradisional yang paling sering diburu jelang Ramadan:
Daftar Kue & Takjil Tradisional Favorit Ramadan
-
Kolak Pisang
Takjil klasik berbahan pisang, santan, dan gula aren. Biasanya ditambah ubi atau kolang-kaling, kolak menjadi menu wajib saat berbuka puasa. -
Biji Salak
Terbuat dari campuran ubi atau singkong yang dibulatkan, disajikan dengan kuah santan dan gula merah. Teksturnya kenyal dan mengenyangkan. -
Klepon
Kue berbentuk bulat berisi gula aren cair dengan balutan kelapa parut. Sensasi “meletup” saat digigit membuat klepon selalu digemari. -
Cenil
Kue kenyal berwarna-warni dari pati singkong, disajikan dengan kelapa parut dan gula pasir atau gula cair. -
Lupis
Beras ketan yang dibungkus daun pisang, disajikan dengan parutan kelapa dan siraman gula aren cair. -
Kue Lapis
Kue berlapis dari tepung beras dan santan dengan rasa manis gurih. Teksturnya lembut dan cocok sebagai takjil ringan. -
Getuk
Olahan singkong yang ditumbuk halus, diberi pewarna alami dan taburan kelapa parut. -
Es Cendol / Dawet
Minuman segar dari tepung beras atau hunkwe, disajikan dengan santan dan gula aren cair. Sangat diminati saat berbuka puasa. -
Es Pisang Ijo
Takjil khas Makassar berupa pisang yang dibalut adonan hijau, disajikan dengan sirup dan saus santan. -
Kolang-kaling Manis
Biasanya dimasak dengan gula dan daun pandan, sering menjadi pelengkap kolak atau disajikan sendiri.
Kehadiran kue dan takjil tradisional bukan sekadar pelengkap berbuka puasa, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan nostalgia Ramadan. Di tengah banyaknya camilan modern, jajanan tradisional tetap bertahan dan terus dicari karena cita rasa serta makna yang dibawanya.




